Rekening Rp 36 Triliun Ludes Seketika, Penipuan Menggila Cek Modusnya

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Rekening warga Amerika Serikat (AS) terkuras sebanyak US$2,1 miliar (Rp36 triliun) sepanjang 2025, gara-gara penipuan online. Laporan baru dari Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) mengatakan jumlah kerugian itu meningkat 8 kali lipat dibandingkan 2020 lalu.

Di antara korban yang melaporkan penipuan online, hampir 30% mengaku modus penipu dimulai melalui media sosial (social media scam). Platform-platform di bawah induk Meta Platform mendominasi aktivitas penipuan online, mayoritasnya lewat Facebook.

WhatsApp dan Instagram masing-masing menduduki peringkat ke-2 dan ke-3 sebagai platform yang paling banyak mencatat insiden kasus penipuan online.

"Sepanjang 2025, orang-orang melaporkan jauh lebih banyak kehilangan uang gara-gara penipuan di Facebook, ketimbang kerugian yang berasal dari penipuan lewat email dan pesan singkat," menurut laporan FTC, dikutip dari Tom's Guide, Selasa (28/4/2026).

Umumnya, tipe-tupe penipuan ini bisa dikerucutkan dalam tiga kategori utama, yakni penipuan investasi, penipuan belanja online, dan penipuan bernuansa romantis (love scam). Skema penipuan ini cenderung merata ke semua kelompok usia, kecuali 80 tahun ke atas. Pasalnya, orang-orang berusia 80 tahun ke atas lebih cenderung terjerat dalam penipuan telepon (phone call scam).

Data FTC menunjukkan uang sebanyak US$1,1 miliar lenyap gara-gara penipuan investasi. Korban terbuai iklan atau unggahan palsu yang menawarkan program untuk mengajarkan mereka cara investasi cuan.

Dalam beberapa kasus, para oknum penipu berlaku sebagai penasihat yang mumpuni, bahkan membuat grup palsu berisi para investor 'sukses'. Hal ini membuat para korban percaya untuk mengikuti program tersebut.

Untuk kategori penipuan belanja online, sebanyak 40% korban mengaku memesan barang yang mereka lihat melalui iklan online. Tipe produk yang dibeli beragam, mulai dari baju, kosmetik, komponen mobil, hingga binatan gpeliharaan.

Iklan-iklan itu akan mengarahkan korban ke situs berbahaya yang langsung mencuri informasi-informasi sensitif korban. Beberapa situs palsu itu mengklaim bisa menawarkan diskon besar untuk merek-merek kawakan.

Selanjutnya, untuk love scam, 60% korban melaporkan duit mereka hilang bermula dari media sosial. Modusnya simpel dan klasik, penipu membuat profil menarik untuk mendekati korban. Pelan-pelan, penipu akan menciptakan krisis yang membuat korban terpaksa harus mengirim uang.

FTC memberikan beberapa tips bagi masyarakat agar tidak terjerat penipuan online. Pertama, jangan pernah membiarkan orang asing yang dikenal lewat media sosial untuk menentukan keputusan investasi Anda.

Sebelum berbincang dengan orang di media sosial, Anda harus membatasi siapa saja yang bisa melihat unggahan dan kontak melalui penyetelan privasi. Pastikan untuk membuat batasan, agar para penipu tidak bisa melakukan profiling untuk menargetkan Anda.

Saat hendak membeli barang dari iklan online, cari tahu terlebih dahulu perusahaan dan kajian terkait kasus penipuan, sebelum melakukan transaksi. Semoga informasi ini membantu!

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|