Teknologi Baru Lebih Canggih dari AI, Dunia Bisa Berubah Total

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah mengguncang dunia dengan inovasi yang ditawarkan. Teknologi ini bahkan kerap menjadi 'kambing hitam' atas kondisi bursa kerja yang lesu.

Raksasa teknologi berbondong-bondong melakukan PHK untuk efisiensi dan memfokuskan investasi ke pengembangan AI. Banyak perusahaan yang mulai mengadopsi AI dalam operasional bisnis, sehingga memicu perlambatan perekrutan karyawan baru.

Di sisi lain, pengembangan AI yang membutuhkan infrastruktur data center skala besar dikhawatirkan berdampak buruk pada lingkungan, karena mengonsumsi listrik dan air dalam jumlah besar. Belum lagi dampak turunan seperti merebaknya disinformasi di internet akibat deepfake yang dimudahkan dengan AI.

Kendati banyak risiko dan mudarat, AI terus dikembangkan karena dinilai bisa menggenjot produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Sejak tahun lalu, sudah banyak terdengar kabar soal pengembangan lebih lanjut dari AI yang disebut Artificial General Intelligence (AGI).

AGI merupakan bentuk kecerdasan buatan yang digadang-gadang memiliki kemampuan kognitif setara manusia. AGI bisa memahami, belajar, menalar, dan menerapkan pengetahuan setara manusia untuk menyelesaikan berbagai tugas intelektual.

Bisa dibilang, jika AGI adalah bentuk lebih cerdas dari AI, dan tidak perlu intervensi manusia yang dominan untuk melakukan beragam tugas. Hal ini tentu mendatangkan kekhawatiran lebih tinggi atas dampak yang lebih luas ketimbang AI.

Pada 26 April 2026, Sam Altman menuliskan dalam laman resmi OpenAI terkait prinsip perusahaan dalam pengembangan AGI. Altman merupakan salah satu figur penting dalam tren adopsi AI, setelah perusahaannya meluncurkan ChatGPT yang mengguncang dunia pada akhir 2022 lalu.

Dalam unggahan terbarunya, Altman menekankan potensi AI yang signifikan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam berbagai aspek.

"Teknologi ini, seperti teknologi-teknologi sebelumnya, akan memberikan lebih banyak kemampuan dan kendali kepada manusia. Apa yang dapat dilakukan manusia dengan AI akan jauh melampaui apa yang dapat dilakukan manusia dengan mesin uap atau listrik," kata Altman, dikutip dari laman resmi OpenAI, Senin (27/4/2025).

Namun, Altman mengatakan manfaat maksimal AI bisa jadi hanya dipegang oleh segelintir perusahaan atau pihak tertentu. Untuk itu, perusahaan mengeluarkan 5 prinsip utama perushaan dalam mengembangkan AGI tahap lanjut, agar manfaatnya diterima semua pihak.

"Misi kami adalah memastikan bahwa AGI bermanfaat bagi seluruh umat manusia," ia menuliskan. Berikut 5 prinsip yang akan memandu pekerjaan OpenAI dalam mengembangan AGI, yang dituliskan oleh Altman:

Pertama, demokratisasi. Altman menegaskan perusahaannya menolak potensi AGI hanya dikembangkan oleh segelintir orang. Ia mengatakan perusahaan akan memberikan akses bagi semua orang melalui proses yang demokratis.

Kedua, pemberdayaan. Altman menilai AI bisa membuat manusia lebih bahagia dan sejahtera, membantu mencapai impian mereka, dan masyarakat secara keseluruhan akan menerima manfaatnya.

"Dunia ini beragam dan setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Kami ingin memberikan otonomi yang dibutuhkan pengguna dan memungkinkan sebanyak yang dapat kami lakukan secara wajar," ia menjelaskan.

Ketiga, kesejahteraan universal. "Dengan menghadirkan sistem AI yang mudah digunakan dan memiliki daya komputasi tinggi kepada semua orang, kami percaya bahwa orang-orang akan menemukan cara-cara baru untuk menghasilkan nilai dan meningkatkan kualitas hidup secara besar-besaran bagi semua orang, terutama dengan penemuan ilmu pengetahuan baru," ia menjelaskan.

Kesejahteraan yang meluas ini dikatakan bantuan dari berbagai pihak. Altman meminta pemerintah untuk mempertimbangkan kembali model ekonomi baru yang memastikan semua orang berpartisipasi dalam penciptaan nilai. Kemudian, ia juga menggarisbawahi pentingnya pembangunan infrastruktur AI dalam skala besar untuk meredam biaya pengembangan teknologi baru.

Keempat, ketangguhan. "AI akan menghadirkan risiko baru, dan kami akan bekerja sama dengan perusahaan lain, ekosistem, pemerintah, dan masyarakat untuk mengatasinya. Kami akan memanfaatkan sumber daya yayasan kami secara signifikan untuk mendukung pekerjaan ini," kata Altman.

Kelima, kemampuan beradaptasi. "Kami tetap percaya bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi tantangan masa depan yang sangat tidak terduga adalah dengan bersiap untuk memperbarui posisi kami seiring dengan bertambahnya pengetahuan," tulis Altman.

Lebih lanjut, ia mengakui bahwa OpenAI merupakan kekuatan yang jauh lebih besar di dunia daripada beberapa tahun yang lalu. Ke depan, ia berjanji perusahaan akan transparan tentang kapan, bagaimana, dan mengapa prinsip-prinsip operasional perusahaan berubah.

"Sebagai contoh konkret, meskipun kami cukup yakin bahwa kemakmuran universal akan tetap sangat penting, kami dapat membayangkan periode di masa depan di mana kami harus mengorbankan sebagian pemberdayaan demi ketahanan yang lebih besar," ia menuturkan.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|