REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gejolak bursa saham Indonesia diproyeksikan masih akan berlanjut setelah pengunduran diri sejumlah petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setelah IHSG amblas dan dua kali trading halt sejak Kamis (29/1/2026), lima orang telah mengundurkan diri dengan alasan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan untuk mendukung langkah pemulihan sektor jasa keuangan.
Pengunduran diri disampaikan Direktur Utama BEI Iman Rachman pada pagi hari saat konferensi pers dengan media, Jumat (30/1/2026). Dilanjutkan dengan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, I.B. Aditya Jayaantara, pada malam hari. Selang dua jam, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara juga menyampaikan pengunduran diri.
Rumor beredar sejak saat itu bahwa beberapa pejabat OJK lainnya sedang mempertimbangkan pengunduran diri lanjutan. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan gejolak ini menjadi sinyal pada pasar dan akan berdampak pada perdagangan saham hari Senin (2/2/2026) nanti.
"Kemungkinan IHSG di-suspend kembali karena turunnya di 8 persen, (ini juga) akibat Goldman sach menurunkan rating saham Indonesia menjadi under weight sama seperti MSCI, tinggal tunggu JP Morgent saja," kata dia, Sabtu (31/1/2026).
Investor asing diperkirakan akan lakukan aksi jual. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mengalami kemerosotan mencapai ambang batas 8 persen, sehingga PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan sementara perdagangan dua kali.
Pelemahan IHSG dipengaruhi faktor laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI), ditambah laporan Goldman Sachs. Praktisi Pasar Modal sekaligus Co-founder Pasar Dana, Hans Kwee mengatakan pasar panik karena MSCI ditambah Goldman Sachs.
Ia memperkirakan potensi arus keluar dana pasif dari pasar saham Indonesia bisa mencapai 2,2 miliar dolar AS hingga 7,8 miliar dolar AS pasca-penilaian MSCI.
MSCI diketahui mengumumkan hasil konsultasi mengenai penilaian free float saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Index. Dalam pengumuman itu, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meski terdapat perbaikan pada data free float dari PT BEI.

3 hours ago
3
















































