REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Agresi terhadap Iran membuat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) retak. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam negara-negara sekutunya di Eropa yang tergabung dalam NATO lantaran menolak mengerahkan armada militernya ke Selat Hormuz yang masih dikuasai total oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Trump mengatakan, penolakan rekanannya di Eropa itu bakal membuat masa depan NATO menjadi suram. “Masa depan yang sangat buruk bagi NATO, kecuali jika mereka menyediakan kapal perang,” kata Trump dalam wawancaranya bersama Financial Times seperti dikutip dari Guardian, Senin (16/3/2026).
Bagi Trump, Eropa merupakan sekumpulan negara-negara yang selama ini diuntungkan dengan adanya keamanan di Selat Hormuz. Hingga saat ini, Iran masih menutup perairan krusial komoditas minyak fosil dan gas cair global itu lantaran diserang oleh agresor AS-Zionis Israel.
Kata Trump, negara-negara yang diuntungkan atas keamanan Selat Hormuz itu punya tanggung jawab membantu AS-Israel untuk membuka kembali akses seperlima minyak dan gas dunia itu dengan cara-cara memerangi Iran.
“Sangat tepat jika mereka (Eropa) yang diuntungkan oleh selat (Hormuz) tersebut, membantu memastikan bahwa tidak ada hal yang buruk terjadi di sana. Jika tidak ada tanggapan, atau mereka memberikan tanggapan yang negatif, saya berpikir, itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO,” kata Trump.
AS merupakan negara utama anggota NATO. Namun partisipasi negara-negara di Eropa lebih dominan. Dan pemimpin negara-negara dominan itu memastikan, ajakan Trump agar anggota-anggota NATO itu mengerahkan armada perangnya ke Selat Hormuz tak dapat diterima.
Negara-negara NATO itu pun merasa agresi AS-Zionis yang menyerang Iran, bukanlah perang anggota-anggota NATO. Sejak AS-Zionis menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026), hingga perang yang sudah memasuki pekan ketiga itu, Eropa menegaskan tak mau ikut-ikutan.
Eropa bahkan turut mengecam Trump dan Benjamin Netanyahu menyerang Iran. Jerman salah satu negara anggota NATO terkuat di Eropa, berkali-kali mengatakan bahwa agresi AS-Zionis ke Iran, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.
Serangan AS-Zionis terhadap Iran yang sudah membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khamenei wafat, semakin membuat runyam. Sebab itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menolak setiap proposal AS maupun Israel yang mengajak ikut masuk ke palagan perang. Termasuk menolak tegas ajakan Trump untuk membantu merebut penguasaan Selat Hormuz yang merupakan teritorial peraian Iran.
“Tidak pernah ada keputusan bersama tentang apakah kami (Jerman) akan campur tangan. Itulah sebabnya pertanyaan tentang bagaimana Jerman akan berkontribusi secara militer tidak akan pernah muncul. Kami tidak akan melakukannya,” kata Merz.
Meskipun kata dia anggapan tentang pemerintahan Para Mullah memang harus diakhiri. “Tetapi tidak dengan mengebom mereka. Berdasarkan pengalaman yang kita peroleh dalam beberapa tahun dan dekade sebelumnya, mengebom mereka hingga tunduk, bukanlah pendekatan yang tepat,” kata Merz.

8 hours ago
5















































