Saat Panggilan Hati Mengalahkan Derasnya Arus Aceh Tamiang

1 hour ago 1

Ilustrasi Taruna Akpol.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika nyawa berada di ujung tanduk dan maut hanya berjarak sekian inci, batas antara kepasrahan dan keajaiban sering kali hanyalah sebuah panggilan hati untuk bertindak tanpa berpikir dua kali.

Di tengah duka yang belum usai akibat hantaman alam, sebuah aksi heroik kembali mengingatkan kita bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang berani mempertaruhkan segalanya demi keselamatan sesama, membuktikan bahwa naluri melindungi adalah bentuk tertinggi dari kemanusiaan.

Kabupaten Aceh Tamiang saat ini masih berjuang di bawah bayang-bayang kehancuran setelah dihantam bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang dahsyat pada Januari 2026 ini. Ribuan rumah terendam, akses transportasi lumpuh akibat timbunan material, dan tumpukan lumpur tebal masih menutupi jalanan kota. Di balik kerusakan fisik yang masif, tersimpan trauma mendalam bagi warga yang terpaksa kehilangan harta benda dan ruang aman mereka dalam sekejap mata.

Kondisi sungai di wilayah ini pun belum sepenuhnya bersahabat; debit air masih tinggi dengan arus bawah yang sangat deras dan membawa banyak debris sisa bencana. Di kawasan bawah Jembatan Kuala Simpang, air cokelat yang keruh tampak tenang di permukaan namun menyimpan tenaga mematikan yang siap menyeret apa saja ke arah hilir. Dalam suasana yang masih kelabu oleh duka inilah, maut nyaris merenggut Haikal, seorang bocah lokal yang terseret arus saat mencoba mengambil barang miliknya yang terjatuh ke sungai pada Jumat (30/1/2026) petang.

Beruntung, di lokasi yang sama tengah bersiap sekelompok pemuda yang sedang menjalankan pengabdian. Mereka adalah peserta Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XLVI, sebuah program tahunan yang mempertemukan para taruna tingkat akhir dari Akmil, AAL, AAU, dan Akpol untuk berintegrasi langsung dengan masyarakat. Kehadiran mereka di Aceh Tamiang sebenarnya untuk misi mulia: mempercepat pemulihan infrastruktur serta melakukan trauma healing bagi warga korban bencana.

Namun, sore itu, teori pengabdian berubah menjadi aksi nyata di lapangan. Tiga taruna Akpol bernama Jasen, Muhammad, dan Davin yang melihat tubuh Haikal mulai timbul tenggelam ditelan arus, seketika langsung terjun ke sungai. Dengan sigap, mereka beradu cepat dengan derasnya air untuk menggapai korban. Begitu Haikal berhasil dievakuasi ke daratan dalam kondisi tidak sadarkan diri, ketiganya segera memberikan tindakan darurat berupa Resusitasi Jantung Paru (RJP).

RJP merupakan teknik pertolongan pertama yang krusial, dilakukan dengan kompresi dada dan pemberian bantuan napas untuk memicu jantung agar kembali berdenyut dan memompa oksigen ke otak pada korban yang henti napas. Berkat ketenangan dan keterampilan medis dasar yang mereka miliki, kondisi Haikal perlahan stabil sebelum akhirnya dilarikan ke RSUD Aceh Tamiang menggunakan ambulans Polda Aceh untuk penanganan medis lanjutan.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|