Sebelum Galileo, Ada Jejak Ibnu Al-Haytham dalam Penemuan Kacamata atau Teleskop Diakui UNESCO

2 days ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bagaimana manusia mengetahui bahwa cahaya bergerak lurus? Dan bagaimana sebuah gambar dunia di luar ruangan bisa muncul terbalik di sebuah ruang gelap?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata telah menjadi bahan eksperimen seorang ilmuwan Muslim sekitar seribu tahun lalu.

Namanya Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Haytham, ilmuwan kelahiran Basra yang di dunia Barat dikenal sebagai Alhazen.

Ibnu al-Haytham bukan sekadar menulis teori tentang cahaya. Ia menguji gagasannya melalui pengamatan dan eksperimen.

Berkat kontribusinya tersebut, UNESCO menyebutnya sebagai salah satu pelopor optik modern sekaligus tokoh penting dalam perkembangan metode eksperimental dalam sains.

Salah satu karya terbesarnya adalah Kitab al-Manazir atau Book of Optics. Karya yang terdiri atas tujuh jilid itu membahas cahaya, penglihatan, refleksi, refraksi, hingga cara manusia melihat objek.

Dalam penelitiannya, Ibnu al-Haytham menggunakan konsep camera obscura, yakni ruang gelap yang memiliki lubang kecil sehingga cahaya dari luar masuk dan membentuk citra pada permukaan di dalamnya. Citra tersebut muncul dalam posisi terbalik.

Eksperimen itu menjadi bagian penting dari kajiannya tentang sifat cahaya. Ia tidak menerima begitu saja pandangan para ilmuwan sebelumnya. Sebaliknya, ia menguji berbagai gagasan melalui pengamatan dan percobaan.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|