REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Saksi mata mengungkapkan, Israel ternyata menyerang sekolah perempuan di Iran dengan bom ganda pada Sabtu lalu. Serangan kedua menghantam mushala tempat berlindung dan menewaskan sekitar 165 anak-anak dan staf sekolah.
Hal ini diungkapkan dua responden pertama dan orang tua dari anak yang syahid kepada Middle East Eye. “Ketika bom pertama menghantam sekolah, salah satu guru dan kepala sekolah memindahkan sekelompok siswa ke mushala untuk melindungi mereka,” kata salah satu petugas medis Bulan Sabit Merah, mengutip percakapannya dengan para penyintas.
"Kepala sekolah menelepon orang tua dan menyuruh mereka datang dan menjemput anak-anak mereka. Namun bom kedua juga terjadi di daerah itu. Hanya sejumlah kecil dari mereka yang berlindung yang selamat."
Hampir seluruh 165 orang yang tewas dalam serangan itu adalah anak perempuan berusia antara tujuh dan 12 tahun, menurut pejabat setempat. Ada sekitar 170 anak perempuan di sekolah di Minab selatan Iran pada saat itu.
Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa orang tua diminta menjemput anak-anak mereka dari sekolah ketika serangan AS-Israel dimulai pada Sabtu pagi.
Namun, Rohollah, ayah dari seorang gadis yang terbunuh dalam serangan kedua, mengatakan kepada MEE bahwa dia dihubungi oleh pihak sekolah setelah sekolah tersebut diserang. MEE tidak mengungkapkan identitas sumbernya di Minab karena alasan keamanan, dan semua nama saksi mata disamarkan.
“Mereka memberi tahu kami bahwa sekolah telah diserang,” kata sang ayah. “Mereka meminta kami untuk datang secepat mungkin dan membawa pulang putri kami.”
Menurut Rohollah, putrinya selamat dari serangan pertama dan dipindahkan ke mushala. Serangan kedua terjadi sebelum dia bisa menghubunginya.
“Gadis kecil saya terbakar habis,” katanya. "Tidak ada yang tersisa darinya. Kami hanya dapat mengidentifikasi dia dari tas sekolahnya, yang masih dia pegang. Dia terbakar seluruhnya." Rohollah mengenang bagaimana putrinya ingin menjadi dokter.
“Dia biasa mengatakan kepada saya, ‘Saya berjanji akan menjadi dokter sehingga kamu tidak perlu membayar biaya pengobatan lagi.’ Saya akan menggendongnya dan berkata, ‘Kamu sudah menjadi dokter kecilku’,” katanya.
"Ketika saya melihatnya tersenyum setelah pulang kerja, semua rasa sakit saya hilang. Sekarang saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan rasa sakit ini. Saya tidak tahu bagaimana menjalaninya."

3 hours ago
3
















































