Selat Hormuz Iran. / ist
Harianjogja.com, JAKARTA — Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kian memanas setelah ratusan kapal dari 87 negara dilaporkan terjebak akibat pembatasan navigasi yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Komandan CENTCOM, Brad Cooper, menyebut kapal-kapal tersebut merupakan pihak netral yang tidak terlibat konflik. Namun, situasi keamanan di Teluk Persia membuat jalur pelayaran vital tersebut terganggu.
“Pasukan kami telah berkomunikasi dengan puluhan kapal dan perusahaan pelayaran untuk memulihkan arus lalu lintas normal,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Senin (5/5/2026).
AS Luncurkan “Project Freedom”
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan inisiatif bertajuk “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal keluar dari kawasan tersebut dengan aman. Operasi ini melibatkan kekuatan militer besar, termasuk kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat tempur berbasis darat dan laut, serta sistem nirawak multi-domain.
Tak hanya itu, sekitar 15.000 personel militer dikerahkan guna menjamin keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Klaim Serangan Rudal Dibantah AS
Di tengah situasi panas, media Iran seperti IRIB dan kantor berita Fars melaporkan bahwa Angkatan Laut IRGC menembakkan dua rudal ke kapal perang AS yang melintas di dekat pelabuhan Jask.
Menurut laporan tersebut, kapal AS disebut terkena serangan dan terpaksa mundur. Namun, pihak CENTCOM membantah klaim tersebut.
“Tidak ada kapal AS yang terkena serangan. Operasi tetap berjalan sesuai rencana,” tegas pejabat militer AS, sebagaimana dikutip media internasional.
Laporan dari Axios juga menyebut pejabat senior AS memastikan tidak ada kerusakan akibat serangan tersebut.
Ancaman Iran dan Risiko Global
Iran menegaskan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz harus mendapatkan izin resmi. Bahkan, Markas Besar Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa kehadiran militer asing, khususnya AS, akan dianggap sebagai ancaman dan bisa memicu serangan langsung.
Ketegangan ini tak lepas dari konflik yang lebih luas, termasuk kegagalan negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad pada April lalu.
Sejak akhir Februari, Iran juga memperketat kontrol terhadap kapal yang berafiliasi dengan AS dan Israel, menyusul meningkatnya eskalasi militer di kawasan.
Dampak ke Pasokan Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi besar memicu lonjakan harga energi global serta mengganggu rantai pasok internasional.
Dengan meningkatnya tensi militer, dunia kini menyoroti upaya diplomatik dan keamanan untuk menjaga kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































