Sindikat AI Rekrut Model Wajah, Penipuan Video Call Makin Canggih

5 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA—Kejahatan siber kini memasuki fase yang lebih canggih dan mengkhawatirkan. Teknologi kecerdasan buatan (AI) dimanfaatkan sindikat internasional untuk menjalankan penipuan melalui video call dengan wajah palsu yang tampak meyakinkan.

Fenomena ini muncul melalui maraknya lowongan kerja mencurigakan yang menawarkan posisi sebagai “model AI” di kawasan Asia Tenggara, terutama di Kamboja yang dikenal sebagai salah satu pusat operasi penipuan daring terbesar.

Alih-alih pekerjaan kreatif, para pelamar justru direkrut untuk menjadi “wajah” dalam skema penipuan berbasis teknologi deepfake. Dengan bantuan perangkat lunak khusus, wajah asli operator dapat diubah secara real-time saat melakukan panggilan video, sehingga terlihat seperti sosok lain yang lebih menarik dan meyakinkan.

"Dalam setahun terakhir hingga sekarang, mereka juga merekrut orang untuk menjadi model AI. Mereka memberikan perangkat lunak untuk menukar wajah menggunakan AI dan melakukan love scam," ungkap Hieu Minh Ngo, penyelidik kejahatan siber dari organisasi Vietnam Chong Lua Dao yang dikutip dari Wired, pada Rabu (25/3/2026).

Dalam praktiknya, operator bisa melakukan ratusan panggilan video setiap hari. Modus yang digunakan umumnya berupa pendekatan emosional atau love scam, di mana pelaku membangun hubungan intens dengan korban sebelum akhirnya meminta uang atau mengarahkan korban untuk berinvestasi dalam aset kripto.

Situasi ini semakin berbahaya karena visual dalam video call—yang sebelumnya dianggap bukti autentik—kini dapat dimanipulasi secara halus dan sulit dideteksi secara kasat mata.

Lebih ironis lagi, sebagian “pekerja” dalam sindikat ini juga menjadi korban. Banyak dari mereka direkrut dengan janji gaji tinggi, namun setelah tiba di lokasi kerja, paspor disita dan mereka dipaksa bekerja dalam tekanan bahkan ancaman kekerasan.

Operasi penipuan ini disebut telah berkembang menjadi industri terorganisir, lengkap dengan fasilitas khusus seperti “ruang AI” untuk menjalankan aktivitas penipuan secara massal.

Melihat tren ini, masyarakat diminta untuk lebih waspada saat berinteraksi secara daring, terutama dengan orang yang baru dikenal melalui aplikasi kencan atau media sosial. Ciri yang patut dicurigai antara lain lawan bicara yang terlalu cepat membangun kedekatan emosional namun selalu menghindari pertemuan langsung.

Selain itu, komunikasi yang cenderung mengarah pada permintaan uang atau investasi juga harus menjadi tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.

Seiring meningkatnya kasus ini, aparat penegak hukum di berbagai negara kini berupaya menelusuri jaringan perekrutan yang banyak beroperasi melalui platform seperti Telegram. Upaya ini menjadi penting untuk membongkar rantai kejahatan yang memanfaatkan teknologi AI sebagai alat utama.

Fenomena ini menegaskan bahwa di era digital, keaslian identitas tidak lagi bisa dinilai dari tampilan visual semata—bahkan wajah yang tampak nyata di layar bisa jadi hanyalah hasil rekayasa algoritma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|