Harianjogja.com, KULONPROGO — Upaya penemuan kasus tuberculosis (TBC) di Kabupaten Kulonprogo masih menghadapi berbagai tantangan. Hingga akhir 2025, capaian deteksi penyakit menular tersebut baru mencapai 44 persen dari target yang ditetapkan. Salah satu faktor utama yang memengaruhi rendahnya angka temuan adalah stigma sosial yang masih kuat di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo, Susilaningsih, mengungkapkan masih banyak warga yang enggan memeriksakan diri karena khawatir dicap negatif jika diketahui mengidap TBC. Pandangan bahwa TBC merupakan penyakit memalukan membuat sebagian masyarakat memilih menutup diri.
“Masih ada anggapan bahwa TBC itu aib. Masyarakat takut dikucilkan lingkungan sekitar, padahal penyakit ini disebabkan bakteri dan bisa disembuhkan secara tuntas jika ditangani dengan benar,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Selain faktor sosial, kendala teknis juga turut memengaruhi proses penemuan kasus. Susilaningsih menjelaskan kualitas sampel dahak yang kurang optimal kerap menyulitkan pemeriksaan melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) maupun rontgen. Padahal, petugas Puskesmas telah melakukan pelacakan kontak secara masif di lapangan.
Secara ideal, satu pasien positif TBC seharusnya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap delapan hingga sepuluh kontak erat, baik keluarga serumah maupun rekan kerja. Namun dalam praktiknya, pelaksanaan tracing masih menemui hambatan.
“Kami akan menyusun ulang strategi untuk meningkatkan penemuan kasus TBC. Karena sampai akhir 2025 baru 44 persen dari target, tentu perlu optimalisasi, termasuk perhitungan ulang kebutuhan anggaran,” lanjut Susilaningsih.
Ke depan, Dinkes Kulonprogo berencana menerapkan pendekatan jemput bola melalui pemeriksaan kesehatan gratis langsung ke rumah-rumah warga. Langkah ini ditujukan untuk menjangkau masyarakat yang kesulitan datang ke fasilitas kesehatan karena aktivitas kerja sekaligus mendorong partisipasi pemeriksaan dini.
Data Dinkes mencatat hingga penghujung 2025 terdapat 429 kasus TBC di Kulonprogo. Wilayah dengan konsentrasi kasus tertinggi berada di Kecamatan Wates dan Sentolo. Untuk mengejar target 2026, investigasi kontak akan diperkuat dengan melibatkan perguruan tinggi.
“IKA akan kita intensifkan dengan dukungan akademisi agar penemuan kasus bisa lebih maksimal,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo, Ambar Purwoko, menegaskan penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan. Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit ini membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Perang melawan TBC harus dilakukan bersama-sama. Kolaborasi dan gotong royong menjadi kunci agar masyarakat Kulonprogo semakin sehat dan sejahtera,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

















































