REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT--Gunung Batu di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat menjadi bagian tak terpisahkan dari garis Sesar atau Patahan Sesar Lembang yang bisa menimbulkan pergerakan gempa. Gunung dengan ketinggian 1228 Mdpl dari permukaan laut itu berada di kilometer 16 dari total 29 kilometer Sesar Lembang.
Gunung Batu juga merupakan salah satu tempat favorit bagi penggemar kegiatan rock climbing atau panjat tebing dengan keberadaan tebing batu di bagian sisi lereng utaranya. Di puncaknya, terdapat menara dan bangunan yang berfungsi sebagai bagian dari penelitian gempa.
"Jadi Gunung Batu ini merupakan bagian dari Sesar Lembang. Dulu ini satu level yang sama, namun kemudian naik ke atas, terangkat oleh aktivitas tektonik," ujar Peneliti Gempa Bumi pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono, Sabtu (30/8/2025).
Selama perjalanannya seperti dituangkan oleh BMKG dalam sebuah plang informasi di puncaknya, Gunung Batu terbentuk akibat membekunya magma yang menerobos daratan atau intrusi sekitar 510 ribu tahun yang lalu atau bertepatan pada kala Pleistosen.
Catatan gempa besar akibat Sesar Lembang terjadi sekitar tahun 1400-an. Sesar Lembang bergerak 1,95 sampai 3,45 milimeter per tahun. Periode keberulangan gempa tersebut diperkirakan 170 sampai 670 tahun.
Mudrik menyebut berdasarkan penelitian tinggi Gunung Batu terus mengalami peningkatan di setiap event gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang terjadi.
"Studi kita itu Gunung Batu sudah bergeser sekitar 120 sampai 450 meter, tapi yang paling muda itu 120 meter. Dari penelitian terakhir, Gunung Batu ini naik 40 sentimeter akibat gempa dengan magnitudo 6,5 sampai 7. Jadi 1 kali event gempa itu bisa bergeser naik 1 meter sampai 2 meter, tapi yang terakhir 40 sentimeter," papar Mudrik.
Mudrik mengurai secara rinci mengenai Sesar Lembang yang membentang dari Cilengkrang, Kabupaten Bandung hingga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Jika melihat siklusnya, kata dia, Sesar Lembang sudah memasuki fase pelepasan energi. Dari penelitian yang sudah dilakukan, kaya dia, siklusnya terjadi antara 170 sampai 670 tahun. Event gempa terakhir berdasarkan rekaman sedimentasi geologi terjadi pada abad ke-15.
"Jadi sudah 560 tahun hingga saat ini. Artinya sudah masuk rentang siklus ulang tahun gempa. Jadi bisa terjadi sekarang, bisa terjadi 100 tahun yang akan datang," kata Mudrik.
Mudrik mengatakan, Sesar Lembang hanya memiliki satu segmen atau bagian yang bisa menghasilkan satu event gempa bumi. Namun berdasarkan hasil berbagai penelitian, kekuatan gempa buminya bisa mencapai magnitudo 7.
"Dampak terburuknya, magnitudo 7. BMKG sudah membuat skenario, hasilnya MMI 8 untuk wilayah Bandung Raya. Penyebab pastinya jelas tektonik. Itu hal wajar karena bumi terus bergerak, kemudian ada bagian bagian bumi koplingnya itu udah besar sehingga harus melepaskan energi," kata Mudrik.
Dengan potensi kekuatan maksimal itu, dampak gempa dari Sesar Lembang akan terasa di semua wilayah Bandung Raya yang meliputi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.
Sehingga tanpa bermaksud membuat panik apalagi menakut-nakuti, namun upaya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa bumi yang bersumber dari Sesar Lembang ini tentunya harus dilakukan semua elemen masyarakat dan pemerintah tentunya.
Rentetan gempa akibat Sesar Lembang yang mengguncang wilayah Kabupaten Bandung Barat bahkan getatannya hingga terasa ke Kota Cimahi sejak Juni hingga Agustus ini tentunya harus menjadi perhatian. "Itu harus diwaspadai. Kita harus mempersiapkan diri, tahu apa yang harus dilakukan ketika berada di sekolah, rumah, kamar mandi, agar bisa melindungi diri dan keluarga," imbuh Mudrik.