Tempe Makin Kecil, Dampak Harga Kedelai Melonjak

4 hours ago 4

Tempe Makin Kecil, Dampak Harga Kedelai Melonjak Hadi Prayitno memproduksi tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo. Antara - Prastyo.

Harianjogja.com, PONOROGO — Lonjakan harga kedelai impor mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah. Perajin tempe di Ponorogo, Jawa Timur, kini harus memutar otak agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya produksi yang terus membebani.

Salah satu perajin di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Hadi Prayitno, mengaku memilih menyiasati kondisi ini dengan memperkecil ukuran tempe yang dijual, tanpa menaikkan harga ke konsumen.

“Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Jadi kami akali dengan mengurangi ukuran,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, strategi tersebut diambil agar daya beli masyarakat tetap terjaga, sekaligus menjaga kelangsungan usaha. Sebelum harga kedelai naik, Hadi mampu memproduksi hingga tiga kuintal tempe per hari. Namun kini kapasitasnya turun menjadi sekitar 2 hingga 2,5 kuintal per hari.

Tak hanya itu, berat tempe per bungkus juga mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya rata-rata mencapai 380 gram, kini berkurang menjadi sekitar 350 gram per bungkus, sementara harga jual tetap dipertahankan.

Harga Kedelai Naik Signifikan

Kenaikan harga kedelai menjadi faktor utama yang menekan pelaku usaha. Pedagang di Pasar Legi Ponorogo, Rafli, menyebut harga kedelai impor kini mencapai Rp12.000 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp10.000 per kilogram.

“Lonjakan ini sudah terjadi beberapa waktu terakhir, salah satunya dipicu kondisi global seperti konflik di Timur Tengah,” katanya.

Tak hanya kedelai impor, harga kedelai lokal juga ikut merangkak naik. Saat ini berada di kisaran Rp12.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp9.000 per kilogram.

Dampak ke Produksi dan Konsumen

Kondisi ini membuat perajin tempe berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka harus menjaga kualitas dan kuantitas produksi, sementara di sisi lain tidak bisa sembarangan menaikkan harga karena berisiko kehilangan pelanggan.

Langkah mengecilkan ukuran produk pun menjadi solusi paling realistis yang banyak dipilih pelaku usaha. Fenomena ini dikenal sebagai “shrinkflation”, yakni strategi mempertahankan harga dengan mengurangi isi produk.

Meski begitu, para perajin berharap harga kedelai bisa segera stabil agar usaha mereka kembali normal. Pasalnya, tempe merupakan salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia yang permintaannya relatif tinggi setiap hari.

Prospek ke Depan

Jika tren kenaikan harga bahan baku terus berlanjut, bukan tidak mungkin pelaku usaha akan mengambil langkah lain, termasuk penyesuaian harga jual. Pemerintah diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan kedelai, baik impor maupun lokal, agar industri kecil seperti perajin tempe tetap bertahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|