Terdeteksi Satelit NASA, 25 Titik Api Terdeteksi di Kalimantan Barat

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lautan api kembali mengepung paru-paru dunia saat kabut asap mulai menyelimuti cakrawala, menandakan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar bencana musiman, melainkan krisis lingkungan yang mempertaruhkan ekosistem dan kesehatan jutaan nyawa.

Kemunculan titik panas (hotspot) yang memicu karhutla umumnya disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Pada musim kemarau, vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar, didukung oleh hembusan angin kencang yang mempercepat perambatan api. Namun, pemicu utamanya sering kali berasal dari aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar secara ilegal, serta kelalaian manusia seperti pembuangan puntung rokok atau sisa api unggun di area yang rawan.

Menghadapi situasi ini, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengerahkan Manggala Agni, brigade pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang menjadi garda terdepan dalam setiap krisis karhutla di Indonesia. Dibentuk oleh Kemenhut, pasukan khusus ini memiliki keahlian dalam teknik pemadaman darat, pemadaman udara, hingga edukasi pencegahan ke masyarakat di wilayah-wilayah terpencil.

Prestasi besar Manggala Agni tercermin dalam keberhasilan mereka menurunkan luas area kebakaran hutan secara signifikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Melalui dedikasi tinggi, mereka sering kali harus bekerja di medan ekstrem selama berhari-hari tanpa henti untuk memastikan api tidak meluas ke area pemukiman atau hutan konservasi, yang diakui secara internasional sebagai upaya krusial dalam mitigasi perubahan iklim global.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menjelaskan bahwa Manggala Agni bergerak cepat di Kabupaten Kubu Raya, Sambas, Mempawah, dan Ketapang seiring meningkatnya potensi kekeringan. Hingga Selasa (27/1), terdeteksi 25 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat.

Data ini diperoleh dari Satelit TERRA dan AQUA, dua satelit milik NASA yang dilengkapi instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer). Satelit ini mampu memantau seluruh permukaan bumi setiap 1 hingga 2 hari, memberikan data radiometrik yang akurat untuk mendeteksi anomali suhu atau titik api secara real-time dari luar angkasa.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi. "Kami telah memulai operasi patroli pencegahan untuk mendeteksi kondisi lapangan lebih awal, memperkuat koordinasi, dan mengecek ketersediaan sumber air," tegas Dwi.

Berkat kerja keras tim di lapangan, kebakaran di beberapa titik seperti Desa Kuala Dua dan Rasau Jaya telah berhasil dipadamkan pada Ahad (25/1). Meski demikian, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, mengingatkan bahwa sistem FDRS BMKG masih menunjukkan peningkatan kerawanan, sehingga Manggala Agni akan terus bersiaga bersama para pihak terkait untuk mencegah kebakaran susulan.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|