Tragedi Yuvi Cileunyi

2 hours ago 4

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, Konon cinta adalah jalan pulang. Tetapi bagi Yuvita Tri Rezeki, seorang perempuan Sunda berusia 29 tahun dari Bandung, cinta justru berubah menjadi lorong gelap yang tak berujung.

Bermula dari sebuah konser musik di Tritan Point, Kota Bandung, tahun 2023. Di sana Yuvi yang lulusan perguruan tinggi itu bertemu Taufik Hidayat. Barangkali seperti ribuan kisah cinta lain yang lahir dari dentuman musik dan kerlap-kerlip lampu panggung, semuanya tampak biasa.

Tidak ada yang menduga bahwa pertemuan itu akan menjadi pintu masuk menuju salah satu tragedi kemanusiaan paling mengerikan yang mengguncang Jawa Barat beberapa tahun terakhir.

Kisah itu bermula sederhana. Setelah berkenalan, hubungan mereka berlanjut. Taufik bahkan sempat datang ke rumah orang tua si moyang Priyangan di Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Namun sesudah itu, jejak korban perlahan menghilang. Telepon tak aktif. Pesan tak terbalas. Keluarga kehilangan kontak. Tiga tahun lamanya.

Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk seorang anak menyelesaikan sekolah menengah, cukup untuk sebuah pemerintahan berganti kebijakan, cukup untuk sebuah bangunan berdiri. Tetapi bagi keluarga korban, tiga tahun itu adalah musim penantian yang tak pernah selesai.

Belakangan diketahui, selama rentang waktu itulah korban diduga disekap di sebuah rumah kontrakan di kawasan padat penduduk di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Sebuah ironi yang sulit diterima akal sehat.

Taufik Hidayat secara sadis menggunting bibir korban, memukul matanya sampai tidak bisa melihat, dan menghantam kakinya agar tak bisa ke mana-mana. Tiga titik tubuh dibunuhnya. Taufik kabarnya menuduh Yuvi tidak setia selama menjalani hubungan.

Di negeri yang gemar bergotong royong, di lingkungan yang rumah-rumahnya berdempetan, seorang perempuan diduga mengalami penyiksaan berkepanjangan tanpa pertolongan yang datang tepat waktu. Seolah-olah penderitaan dapat bersembunyi di balik tembok tipis, sementara dunia di luarnya tetap berjalan seperti biasa.

Kasus itu akhirnya terbongkar bukan karena operasi intelijen canggih atau teknologi mutakhir. Ia terbuka karena sebuah pesan WhatsApp misterius yang diterima keluarga pada 10 Juni 2026. Pengirim tak dikenal memberi tahu bahwa korban berada di IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Ketika keluarga datang, yang mereka temukan bukan lagi sosok Yuvi yang mereka kenal tiga tahun lalu. Wajahnya mengalami kerusakan berat. Bibir bagian atas hilang. Penglihatannya lenyap. Tubuhnya penuh luka dan infeksi, menyimpan jejak kekerasan yang panjang.

Yang membuat hati tercekat bukan hanya luka fisiknya. Yang lebih menggetarkan adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut korban ketika mulai mampu berkomunikasi. "Saya mohon maaf," katanya. Bukan keluhan. Bukan kemarahan. Bukan tuntutan keadilan. Permintaan maaf.

Kalimat itu terasa seperti cermin retak yang memantulkan wajah kemanusiaan kita sendiri. Mengapa seseorang yang mengalami penderitaan sedemikian rupa justru merasa perlu meminta maaf? Kepada siapa ia meminta maaf? Untuk kesalahan apa?

Psikologi trauma memiliki jawaban yang menyedihkan. Korban kekerasan yang berlangsung lama sering mengalami apa yang disebut trauma bonding, sebuah kondisi ketika korban membangun keterikatan emosional yang tidak sehat kepada pelaku.

Dalam kondisi ekstrem, korban dapat merasa dirinya bersalah atas kekerasan yang diterimanya. Ia mulai melihat dunia melalui kacamata yang dipasang oleh penyiksanya.

Ia kehilangan kepercayaan pada penilaiannya sendiri. Yang salah terasa benar, yang menyakitkan terasa wajar, dan yang paling mengerikan: korban merasa dirinya pantas menerima hukuman.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|