Transformasi Perguruan Tinggi Islam di Era Kecerdasan Buatan: Tantangan dan Harapan

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Zainal Habib (Ketua PP ISNU dan Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menghasilkan pengetahuan. Di ruang kuliah, mahasiswa kini dapat menyusun ringkasan, menerjemahkan literatur, bahkan merancang proposal penelitian hanya dalam hitungan menit dengan bantuan AI.

Perubahan ini menghadirkan peluang besar bagi dunia pendidikan, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan mendasar: apakah perguruan tinggi masih menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan ketika mesin juga mampu menghasilkan jawaban?

Bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), tantangannya jauh lebih kompleks. Perguruan tinggi Islam tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki integritas moral, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, transformasi digital di lingkungan PTKI tidak cukup dimaknai sebagai adopsi teknologi, melainkan harus menjadi proses mengintegrasikan kecerdasan teknologi dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Filsuf Martin Heidegger pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar teknologi bukanlah mesin yang menggantikan manusia, melainkan ketika manusia mulai memandang dunia hanya sebagai sesuatu yang dapat dihitung, diukur, dan dieksploitasi. Pandangan ini semakin relevan di era kecerdasan buatan.

AI mampu mempercepat proses berpikir, tetapi tidak otomatis menghadirkan kebijaksanaan. Mesin dapat mengolah miliaran data, namun tidak mampu memahami makna, nilai, dan tanggung jawab moral sebagaimana manusia.

Dalam konteks itu, transformasi Perguruan Tinggi Islam tidak boleh berhenti pada digitalisasi administrasi atau penggunaan AI di ruang kelas.

Transformasi yang sesungguhnya adalah bagaimana perguruan tinggi mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, etika yang kuat, serta kesadaran bahwa ilmu pengetahuan pada akhirnya harus diabdikan untuk kemaslahatan umat.

AI Mengubah Wajah Pendidikan Tinggi

Perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perubahan kurikulum perguruan tinggi. Laporan UNESCO (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen mahasiswa di berbagai negara telah menggunakan aplikasi berbasis AI untuk membantu proses belajar.

Sementara survei Digital Education Council (2024) menemukan sekitar 86 persen mahasiswa telah memanfaatkan AI generatif, seperti ChatGPT, untuk mengerjakan tugas akademik dalam berbagai bentuk.

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan akademik sehari-hari. Pertanyaannya bukan lagi apakah perguruan tinggi harus menerima AI, melainkan bagaimana AI digunakan secara etis, bertanggung jawab, dan produktif.

Dalam perspektif filsafat pendidikan, John Dewey menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer informasi, tetapi proses membentuk kemampuan berpikir reflektif. Jika AI hanya digunakan untuk memperoleh jawaban instan, maka pendidikan kehilangan esensinya sebagai proses pencarian makna.

Perguruan Tinggi Islam Menghadapi Tantangan Baru

Bagi PTKI, AI menghadirkan tantangan yang lebih luas daripada sekadar perubahan metode pembelajaran. Perguruan tinggi Islam selama ini dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketika mahasiswa dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik melalui AI, muncul risiko berkurangnya tradisi membaca, menelaah kitab, berdiskusi, dan berpikir mendalam. Padahal tradisi intelektual Islam sejak masa Al-Ghazali, Ibn Sina, hingga Ibn Khaldun berkembang melalui proses dialog, kritik, dan kontemplasi yang panjang.

Filsuf Muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang baik (good man), bukan sekadar pekerja yang terampil. Karena itu, keberhasilan PTKI tidak boleh hanya diukur dari kemampuan lulusannya menguasai teknologi, tetapi juga dari kematangan karakter, integritas, dan adab.

AI Tidak Menggantikan Hikmah

AI mampu menghasilkan teks, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu analisis data. Namun AI tidak memiliki kesadaran moral (moral consciousness), empati, maupun tanggung jawab etis.

Di sinilah relevansi pemikiran Aristoteles mengenai phronesis atau kebijaksanaan praktis. Pengetahuan bukan hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami kapan, mengapa, dan untuk tujuan apa pengetahuan tersebut digunakan.

Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan makna hikmah, yakni kemampuan menempatkan ilmu pada tujuan yang benar. AI dapat membantu menemukan informasi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab menentukan nilai, keadilan, dan kemaslahatan dari informasi tersebut.

Karena itu, perguruan tinggi Islam tidak boleh bersaing dengan AI dalam menghasilkan jawaban, melainkan harus unggul dalam membentuk hikmah, etika, dan kepemimpinan moral.

Transformasi PTKI Harus Dimulai dari Tata Kelola

Transformasi tidak cukup dilakukan melalui pembelian perangkat digital atau pembangunan laboratorium AI. Yang jauh lebih penting adalah perubahan tata kelola akademik.

Data Kementerian Agama menunjukkan Indonesia memiliki lebih dari 800 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, terdiri atas PTKIN dan PTKIS, dengan jutaan mahasiswa yang menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan tinggi nasional. Potensi sebesar ini dapat menjadi kekuatan besar apabila seluruh institusi memiliki strategi transformasi digital yang terarah.

Beberapa langkah yang mendesak dilakukan antara lain memperbarui kurikulum berbasis literasi digital dan AI, menyusun pedoman etika penggunaan AI dalam pembelajaran, meningkatkan kompetensi dosen melalui pelatihan berkelanjutan, serta memperkuat kolaborasi dengan industri teknologi dan pusat riset.

Transformasi juga harus mencakup digitalisasi layanan akademik, pemanfaatan analitik data untuk pengambilan keputusan, serta pengembangan riset interdisipliner yang menghubungkan ilmu keislaman dengan sains dan teknologi.

Masa Depan Perguruan Tinggi Islam: Menyatukan Teknologi dan Kemanusiaan

Sejarawan Yuval Noah Harari mengingatkan bahwa pada abad ke-21, kemampuan terpenting bukan lagi menghafal informasi, melainkan terus belajar (lifelong learning), beradaptasi, dan berpikir kritis. Pesan tersebut semakin penting bagi perguruan tinggi Islam.

Di tengah kemajuan AI, keunggulan PTKI bukan terletak pada kemampuannya menghasilkan lulusan yang lebih cepat dibandingkan mesin, tetapi pada kemampuannya membentuk manusia yang mampu menggunakan teknologi secara bijaksana.

Pada akhirnya, transformasi Perguruan Tinggi Islam bukanlah perlombaan mengejar kecanggihan teknologi.

Transformasi yang sesungguhnya adalah mengintegrasikan akal, wahyu, dan teknologi dalam satu ekosistem pendidikan yang melahirkan insan berilmu, berakhlak, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman. Sebab AI dapat mempercepat lahirnya pengetahuan, tetapi hanya manusia yang dapat mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan dan kemaslahatan bagi peradaban.

Dalam perspektif filsafat Islam, ilmu pengetahuan tidak pernah dipahami sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk mendekatkan manusia kepada kebenaran dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.

Pemikir Muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis terbesar pendidikan modern bukanlah kekurangan informasi, tetapi loss of adab atau hilangnya adab dalam menggunakan ilmu.

Karena itu, ketika AI mampu menyediakan informasi dalam jumlah nyaris tak terbatas, tugas Perguruan Tinggi Islam justru semakin penting, yakni memastikan bahwa ilmu tersebut digunakan dengan tanggung jawab moral, kejujuran akademik, dan orientasi pada kemaslahatan umat.

Harapan besar juga terbuka apabila PTKI mampu menjadikan AI sebagai mitra dalam memperkuat tridarma perguruan tinggi. Di bidang pendidikan, AI dapat mendukung pembelajaran yang lebih personal dan adaptif.

Dalam penelitian, AI mempercepat analisis data, penelusuran literatur, dan kolaborasi lintas disiplin. Sementara pada aspek pengabdian kepada masyarakat, AI dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan solusi berbasis data terhadap persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, ekonomi syariah, hingga pemberdayaan umat.

Dengan jumlah lebih dari 800 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia, PTKI memiliki modal kelembagaan yang sangat besar untuk menjadi pelopor transformasi pendidikan Islam berbasis teknologi yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman.

Pada akhirnya, masa depan Perguruan Tinggi Islam akan ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai, antara kecerdasan buatan dan kebijaksanaan manusia, serta antara kemajuan teknologi dan kemuliaan akhlak.

AI akan terus berkembang dengan kecepatan yang sulit dibendung, tetapi karakter, integritas, empati, dan tanggung jawab tidak pernah dapat diprogram sepenuhnya oleh mesin.

Di sinilah letak peran strategis Perguruan Tinggi Islam: bukan sekadar melahirkan lulusan yang mahir memanfaatkan teknologi, melainkan membentuk pemimpin masa depan yang mampu mengarahkan teknologi untuk menghadirkan keadilan, kemanusiaan, dan peradaban yang lebih bermartabat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|