
Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)
REPUBLIKA.CO.ID, Salah satu hal pertama yang terasa ketika tiba di Belanda pada 18 Juni 2026 lalu adalah keteraturan. Setelah menyelesaikan proses imigrasi di Bandara Amsterdam Schiphol, kami melanjutkan perjalanan menuju Groningen dengan kereta api. Integrasi antara bandara dan stasiun kereta membuat perpindahan antar moda berlangsung mudah dan efisien.
Jadwal perjalanan dapat diakses melalui aplikasi maupun papan informasi yang tersebar di berbagai sudut stasiun. Tidak jarang penumpang harus berpindah peron dalam waktu yang relatif singkat.
Kami pun beberapa kali harus berjalan cepat, bahkan berlari kecil, agar tidak tertinggal kereta api yang datang tepat sesuai jadwal. Jadwal kereta api terasa seperti sebuah komitmen yang dijaga bersama oleh sistem yang dirancang agar dapat diprediksi, diukur, dan diandalkan.
Namun sistem yang paling presisi sekalipun tidak kebal terhadap kejadian tak terduga. Dalam perjalanan dari Groningen menuju Maastricht, kereta api yang kami tumpangi tidak dapat melanjutkan perjalanan karena terjadi gangguan listrik di jalur setelah kota pertama yang kami lewati dari Groningen.
Setelah pengumuman disampaikan, para penumpang yang sudah terbiasa menggunakan kereta api segera membuka aplikasi perjalanan untuk mencari rute alternatif menuju tujuan masing-masing. Sementara wisatawan seperti kami harus lebih dahulu bertanya kepada petugas maupun penumpang lain untuk memastikan jalur pengganti yang dapat digunakan.
Informasi tersedia dengan jelas, tetapi setiap penumpang tetap harus mengambil keputusan sendiri mengenai langkah berikutnya. Sistem menyediakan alternatif, sedangkan pengguna menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
Di luar gangguan teknis, kami juga menghadapi gangguan yang berasal dari faktor manusia, yaitu aksi mogok kerja di Belanda dan Belgia. Namun yang membuat kami kagum bukanlah gangguan itu sendiri, melainkan cara informasinya disampaikan.
Jauh sebelum hari pelaksanaan, aplikasi dan situs resmi operator transportasi telah menampilkan jadwal yang terdampak, layanan yang dibatalkan, serta alternatif yang tersedia, sehingga penumpang memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan rencana perjalanan.
Renovasi infrastruktur yang terjadwal pun dikomunikasikan dengan cara yang sama. Sistem yang baik bukanlah sistem yang tidak pernah gagal, melainkan sistem yang mampu merespons kegagalan secara transparan dan terhormat.
Pengalaman serupa terjadi ketika kami menggunakan kereta api Belgia dari Stasiun Liège-Guillemins menuju Stasiun Brussel Midi untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta api cepat menuju Prancis.
Di salah satu kota yang dilalui, kembali terjadi gangguan listrik. Kali ini respons yang diambil berbeda, tetapi sama cerdasnya. Kereta api tidak berhenti dan menunggu, melainkan mengambil rute memutar untuk menghindari titik gangguan, lalu kembali ke jalur semula setelah melewati area bermasalah. Penumpang tidak perlu turun dan tidak perlu mencari sambungan perjalanan lain. Kereta api tetap tiba di Stasiun Brussel Midi tepat waktu. Dua kejadian, dua respons berbeda, satu prinsip yang sama, yaitu tujuan tetap harus dicapai, meski jalurnya harus berubah.
Dua pengalaman tersebut tidak jauh berbeda dengan perjalanan para mahasiswa S2 dan S3 yang sedang menempuh penelitian di Universitas Amikom Yogyakarta. Dalam perjalanan riset, gangguan hampir pasti akan terjadi. Data tidak terkumpul sesuai rencana, metode menghasilkan temuan yang berbeda dari dugaan awal, literatur yang dijadikan pijakan ternyata telah dibantah oleh penelitian yang lebih baru, atau responden yang berkali-kali dijadwalkan tetap sulit ditemui.
Tidak ada penelitian yang berjalan mulus dari awal hingga akhir persis seperti yang tertulis dalam proposal. Yang membedakan peneliti yang berhasil dari yang tidak bukanlah absennya gangguan, melainkan kecepatan dan kecerdasan dalam meresponsnya.
Sistem kereta api Belanda memberikan rute alternatif dan hak kompensasi. Sistem kereta api Belgia memilih jalur memutar lalu kembali ke jalur semula. Keduanya mengajarkan sesuatu yang sangat relevan bagi peneliti.
Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, mengevaluasi, dan mencari jalan baru menuju tujuan yang sama. Ada kalanya kita perlu memutar, menggunakan pendekatan yang tidak direncanakan sejak awal, lalu kembali ke jalur utama setelah melewati hambatan. Yang tidak boleh dilakukan adalah berdiam terlalu lama di titik gangguan sambil berharap masalah selesai dengan sendirinya. Penelitian tidak menunggu penelitinya siap namun menunggunya untuk bergerak.
Di sinilah peran promotor, ko-promotor, dan institusi menjadi sangat penting. Seperti petugas kereta api yang segera memberikan informasi dan alternatif ketika gangguan terjadi, promotor yang baik adalah mereka yang hadir bukan hanya saat segalanya berjalan lancar, tetapi justru ketika peneliti menghadapi kebuntuan. Namun sebagaimana penumpang tetap harus memilih rute perjalanannya sendiri, pada akhirnya peneliti juga harus mengambil keputusan akademiknya sendiri.
Memberikan peta rute alternatif, membantu mengevaluasi apakah perlu memutar atau menunggu, serta memastikan mahasiswa tidak terlalu lama terjebak dalam frustasi merupakan bagian dari proses pembimbingan yang sesungguhnya. Budaya pendampingan yang responsif terhadap hambatan penelitian merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas proses pendidikan pascasarjana.
Kereta api dari Maastricht tiba di Liège tepat waktu meski harus memutar. Saya pun dapat menjalankan tugas sebagai penguji Ujian Tertutup Disertasi doktor Informatika Universitas Amikom Yogyakarta dari kota itu, ribuan kilometer dari Yogyakarta, tanpa satu agenda pun yang terlewat.
Perjalanan kami di Eropa masih berlanjut, dan setiap kota yang kami singgahi terus mengajarkan sesuatu. Bahwa keteraturan bukan berarti ketiadaan gangguan, bahwa ketepatan waktu bukan berarti jalur yang selalu lurus, dan bahwa mencapai tujuan kadang justru membutuhkan keberanian untuk memilih rute yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.
Allah SWT berfirman: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11).
Gangguan listrik, mogok kerja, data yang tidak sesuai harapan, atau metode penelitian yang perlu diubah adalah bagian dari perjalanan yang tidak selalu dapat kita kendalikan. Namun seperti kereta api yang tetap bergerak menuju tujuan melalui jalur alternatif, manusia pun dituntut untuk tetap melangkah ketika rencana semula tidak lagi dapat digunakan. Sebab yang terpenting bukanlah apakah perjalanan berlangsung tanpa hambatan, melainkan apakah kita tetap mampu bergerak menuju tujuan ketika hambatan itu datang menghadang.
Wallāhu a'lam.

3 hours ago
3
















































