Logo NU di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Kramat, Jakarta.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Polemik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mencuat menyusul beredarnya undangan Peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 Masehi yang mencantumkan nama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Katib Syuriah PBNU, KH Ahmad Tajul Mafakhir (Gus Tajul) menegaskan, agenda tersebut belum mendapat persetujuan Rais Aam dan dinilai cacat secara prosedural.
Penegasan itu disampaikan Gus Tajul setelah pesan klarifikasinya di grup WhatsApp Pengurus Syuriyah–Tanfidziyah PBNU beredar luar. Saat dikonfirmasi, ia memastikan keaslian pernyataan tersebut.
“Ya benar. Itu pernyataan saya yang saya kirimkan ke WAG Pengurus Syuriyah-Tanfidziyah PBNU,” ujar Gus Tajul kepada Republika.co.id, Selasa (27/1/2026).
Dalam klarifikasinya, Gus Tajul menyatakan pencantuman nama Rais Aam PBNU dalam undangan yang beredar dilakukan tanpa seizin KH Miftachul Akhyar. Klarifikasi itu, kata dia, disampaikan atas izin langsung dari Rais Aam PBNU.
"Menyikapi beredarnya undangan Peringatan Harlah NU ke-100 Masehi yang mencantumkan nama Rais Aam, melalui washilah postingan ini, dan atas seizin beliau, saya perlu menyampaikan klarifikasi bahwa agenda tersebut belum mendapatkan persetujuan dari Rais Aam," ucap Gus Tajul.
Gus Tajul mengungkapkan kronologi bahwa pada Senin (12/1/2026), Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memang telah menyampaikan rencana kegiatan Harlah NU ke-100 Masehi saat sowan kepada Rais Aam.
Namun, Rais Aam secara tegas memberikan arahan agar rencana tersebut dibahas dan diputuskan terlebih dahulu melalui Rapat Pleno PBNU.

14 hours ago
3















































