Orang-orang mengambil bagian dalam protes menentang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Tel Aviv, Israel, Sabtu, 22 Maret 2025.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Dampak sosial dan ekonomi dari 2 tahun aksi genosida di Gaza terefleksi di dalam negeri Israel, di mana koran berbahasa Ibrani dilansir Middle East Monitor, Selasa (27/1/2026), menyoroti peningkatan kasus kesehatan mental, bertambahnya jumlah kalangan difabel, dan pergeseran tren demografik termasuk sedikit warga Israel yang kembali ke negara dan penurunan angka pernikahan.
Menurut laporan "Face of Society" yang dipublikasikan pada Senin (26/1/2026), oleh Biro Pusat Statistik Israel, masyarakat Israel mengalami tekanan selama 2 tahun masa perang, khususnya di kalangan keluarga prajurit. Laporan menyebut 34,1 persen dari pasangan prajurit mengalami kesulitan keuangan lantaran sang suami bertugas.
Laporan juga menyebutkan, 52 persen responden mengamati perubahan negatif dari kesehatan mental anak-anak mereka, sementara 35,2 persen dar keluarga yang memiliki anak mengaku mengalami masalah finansial setelah orang tua menjalani masa tugas berperang di Gaza.
Angka orang mengalami depresi juga meningkat dari 25,5 persen pada 2023 menjadi 33,9 persen pada 2024. Peningkatan tajam juga tercatat di komunitas yang berlokasi dekat dengan zona konflik. Di daerah pendudukan dalam radius 15 kilometer dari perbatasan dengan Lebanon, persentase warga Israel yang mengalami depresi meningkat dari 24,8 persen menjadi 36,5 persen, sementara warga pendudukan yang depresi di perbatasan dengan Gaza juga meningkat angkanya dari 25,3 persen menjadi 29,2 persen.
Sumber laporan "Face of Society" menyatakan, dampak sosial juga terkait dengan perlemahan keamanan personal, peningkatan stres psikologis, dan meningkatnya krisis di dalam keluarga dan kehidupan sosial di seluruh Israel.

16 hours ago
3
















































