Usia 40-an Jadi Masa Rentan Depresi bagi Perempuan, Ini Penyebabnya

3 hours ago 4

Usia 40-an Jadi Masa Rentan Depresi bagi Perempuan, Ini Penyebabnya

Ilustrasi perempuan tidak bahagia - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Usia 40-an sering disebut sebagai masa transisi penting dalam kehidupan perempuan. Pada fase ini, berbagai perubahan terjadi secara bersamaan, mulai dari perubahan hormon menjelang menopause, perubahan peran dalam keluarga, hingga evaluasi terhadap perjalanan hidup yang telah dijalani selama bertahun-tahun.

Tekanan yang datang dari berbagai arah tersebut dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Dalam beberapa kasus, perempuan pada usia paruh baya menjadi lebih rentan mengalami depresi apabila tidak mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat.

Berikut sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental perempuan di usia 40-an.

Perubahan Hormon Menjelang Menopause

Salah satu perubahan terbesar yang dialami perempuan pada usia ini adalah perimenopause, yaitu masa transisi sebelum menopause.

Pada fase tersebut, kadar hormon estrogen mulai mengalami fluktuasi sehingga memicu berbagai keluhan seperti perubahan suasana hati, gangguan tidur, mudah lelah, hingga berkurangnya energi. Perubahan fisik dan emosional yang terjadi bersamaan dapat membuat perempuan lebih rentan mengalami stres maupun depresi.

Kepercayaan Diri Menurun Akibat Perubahan Tubuh

Bertambahnya usia juga membawa perubahan pada kondisi fisik. Berat badan yang lebih sulit dikontrol, perubahan bentuk tubuh, hingga munculnya tanda-tanda penuaan dapat memengaruhi rasa percaya diri.

Bagi sebagian perempuan yang selama ini mengaitkan harga diri dengan penampilan fisik, perubahan tersebut dapat menjadi sumber tekanan emosional yang cukup besar.

Muncul Penyesalan dalam Peran Sebagai Ibu

Saat anak-anak mulai tumbuh dewasa, banyak perempuan memiliki waktu untuk meninjau kembali perjalanan mereka sebagai orang tua.

Tidak sedikit yang merasa menyesal karena menganggap belum memberikan pengasuhan terbaik atau masih menyimpan rasa bersalah terhadap keputusan tertentu yang pernah diambil dalam keluarga.

Menyesal Terlalu Lama Menjadi Ibu Rumah Tangga

Sebagian perempuan yang selama bertahun-tahun fokus mengurus keluarga mulai mempertanyakan pilihan hidup yang pernah diambil.

Ketika anak-anak semakin mandiri, muncul keinginan untuk kembali bekerja atau membangun karier. Namun, proses kembali memasuki dunia kerja setelah lama vakum sering kali tidak mudah dan dapat memicu tekanan psikologis.

Terlalu Fokus pada Karier

Di sisi lain, perempuan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja juga bisa mengalami penyesalan.

Mereka mungkin merasa kehilangan banyak momen penting bersama anak atau keluarga. Ada pula yang mulai menyadari bahwa pencapaian karier yang diraih tidak memberikan kepuasan emosional seperti yang diharapkan.

Sedih Saat Anak Mulai Mandiri

Fenomena yang sering disebut empty nest syndrome juga dapat dialami perempuan usia 40-an.

Ketika anak semakin dewasa dan memiliki kehidupan sendiri, sebagian ibu merasakan kehilangan peran yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Kondisi tersebut dapat memunculkan rasa sepi dan kesedihan.

Masalah Pernikahan Menjadi Lebih Terlihat

Saat anak-anak tidak lagi menjadi pusat perhatian utama, pasangan memiliki lebih banyak waktu bersama.

Situasi ini sering membuat berbagai persoalan rumah tangga yang sebelumnya tertutupi kesibukan mengurus anak menjadi lebih terlihat. Tidak jarang perempuan mulai mengevaluasi kembali kualitas hubungan dan kebahagiaan dalam pernikahan mereka.

Menghadapi Orang Tua yang Menua

Pada usia 40-an, perempuan sering berada dalam posisi yang unik karena harus memperhatikan anak-anak sekaligus orang tua yang mulai menua.

Tanggung jawab merawat orang tua yang mengalami penurunan kondisi kesehatan dapat menambah beban emosional. Selain itu, kekhawatiran kehilangan orang tua juga dapat memicu kecemasan dan kesedihan yang mendalam.

Jangan Abaikan Gejalanya

Depresi pada perempuan usia 40-an umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Perubahan hormon, kondisi keluarga, pekerjaan, hubungan dengan pasangan, hingga pengalaman masa lalu dapat saling berkaitan dan memperburuk kondisi psikologis.

Jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai, gangguan tidur, kelelahan terus-menerus, atau perasaan tidak berharga yang berlangsung lama, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

Mencari bantuan profesional melalui psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah penting untuk memahami penyebab yang mendasari serta mendapatkan penanganan yang sesuai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|