Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi adalah salah satu cara untuk membangun kekayaan. Namun, banyak investor pemula melakukan kesalahan yang menghambat pertumbuhan portofolio mereka. Menghindari kesalahan ini dapat meningkatkan peluang Anda mencapai tujuan keuangan.
Berikut adalah 18 kesalahan investasi yang dikutip dari Top 20 Common Investment Mistakes, disusun oleh CFA Institute.
1. Mengikuti Ekspektasi Orang Lain
Banyak investor membandingkan hasil investasinya dengan orang lain. Padahal, investasi yang sukses harus disesuaikan dengan tujuan, toleransi risiko, dan kondisi keuangan.
-
Fokus pada tujuan pribadi, bukan target orang lain.
-
Jangan terlalu berharap pada imbal hasil yang tidak realistis.
2. Tidak Punya Tujuan Investasi yang Jelas
Tanpa tujuan yang jelas, strategi investasi bisa acak dan tidak efektif. Tentukan apakah tujuan Anda untuk:
-
Dana pensiun
-
Membeli rumah
-
Pendidikan anak
-
Dana darurat
Dengan tujuan yang jelas, portofolio dapat disesuaikan untuk memaksimalkan peluang keberhasilan jangka panjang.
3. Kurang Diversifikasi Portofolio
Diversifikasi membantu mengurangi risiko dan melindungi portofolio dari kerugian besar. Dengan membagi investasi ke beberapa instrumen, Anda tidak terlalu bergantung pada satu aset atau sektor.
-
Hindari menaruh semua dana di satu saham atau sektor.
-
Sertakan berbagai jenis aset, misalnya saham, obligasi, reksa dana, emas, atau perak, untuk menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil yang cenderung stabil.
-
Jangan terlalu banyak diversifikasi karena bisa menurunkan performa.
4. Terlalu Fokus pada Kinerja Jangka Pendek
Banyak investor terjebak fluktuasi pasar jangka pendek dan mengubah strategi secara impulsif. Fokuslah pada kinerja jangka panjang, karena pasar selalu bergerak naik turun.
5. Membeli Saham Harga Tinggi dan Menjual Saat Rendah
Kesalahan ini muncul karena emosi, seperti kepanikan dan keserakahan di pasar saham.
-
Hindari mengikuti hype pasar.
-
Tetap pada strategi jangka panjang.
-
Gunakan analisis fundamental dan teknikal untuk menentukan harga wajar investasi.
6. Terlalu Sering Melakukan Trading
Trading yang terlalu sering meningkatkan biaya dan risiko:
-
Biaya transaksi tinggi → mengurangi keuntungan.
-
Terlalu banyak trading → risiko tak terduga.
-
Bersabarlah, investasi membutuhkan waktu untuk berkembang.
7. Membayar Biaya dan Komisi Terlalu Tinggi
Biaya tinggi, seperti management fee atau komisi broker, dapat menggerus keuntungan jangka panjang.
-
Pilih investasi dengan biaya yang masuk akal.
-
Pastikan Anda mendapatkan nilai sepadan dari biaya yang dibayarkan.
8. Tidak Meninjau Investasi Secara Berkala
Portofolio berubah seiring waktu. Setidaknya periksa setahun sekali:
-
Pastikan alokasi aset masih sesuai dengan tujuan.
-
Lakukan rebalancing bila diperlukan.
9. Mengambil Risiko Terlalu Banyak atau Terlalu Sedikit
Risiko adalah bagian dari investasi:
-
Terlalu banyak → fluktuasi tinggi, bisa menimbulkan stres.
-
Terlalu sedikit → return rendah, sulit mencapai tujuan finansial.
-
Kenali kemampuan finansial dan psikologis Anda.
10. Tidak Mengetahui Kinerja Investasi yang Sebenarnya
Banyak investor hanya melihat hasil beberapa saham atau aset tertentu, tanpa mengevaluasi kinerja seluruh portofolio. Padahal, portofolio terdiri dari berbagai instrumen (saham, obligasi, emas, reksa dana, dll.), sehingga melihat satu aset saja tidak memberi gambaran yang sebenarnya.
-
Hitung imbal hasil portofolio secara keseluruhan, setelah dikurangi biaya dan inflasi.
-
Bandingkan hasil portofolio dengan tujuan keuangan Anda.
12. Mengandalkan Berita Sebagai Dasar Keputusan Investasi
Berita pasar sering bias dan cepat usang. Gunakan beberapa sumber informasi dan lakukan riset independen. Jangan hanya mengandalkan berita sebagai dasar keputusan investasi.
13. Mengejar Imbal Hasil Tinggi
Aset dengan yield tinggi terlihat menggoda, tetapi risiko tinggi biasanya menyertai imbal hasil tinggi. Fokus pada keseluruhan portofolio dan manajemen risiko.
14. Mencoba Menebak Waktu Pasar (Market Timing)
Banyak investor mencoba membeli saham atau aset lain saat diperkirakan harga rendah dan menjual saat diperkirakan harga tinggi. Strategi ini disebut market timing, tetapi sangat sulit dilakukan, bahkan bagi profesional.
-
Fokuslah pada investasi konsisten (misalnya rutin menabung dan membeli aset setiap bulan).
-
Jangan tergoda untuk keluar-masuk pasar berdasarkan prediksi waktu tertentu.
-
Strategi konsisten lebih efektif untuk pertumbuhan jangka panjang dan mengurangi risiko kehilangan momentum pasar.
15. Membiarkan Emosi Menguasai Keputusan
Ketakutan, keserakahan, atau emosi negatif bisa merusak keputusan investasi. Gunakan rencana yang jelas dan tetap rasional, terutama saat pasar bergejolak.
16. Melupakan Inflasi
Banyak investor fokus pada nominal imbal hasil misalnya, saham naik 10% dalam setahun tanpa mempertimbangkan inflasi.
Banyak orang gagal mulai karena kurang pengetahuan atau trauma dari kerugian sebelumnya. Mulai lebih awal dan konsisten, karena waktu adalah faktor penting dalam akumulasi kekayaan.
18. Tidak Mengendalikan Apa yang Bisa Dikendalikan
Anda mungkin tidak bisa mengontrol pasar, tetapi bisa:
-
Investasi secara rutin
-
Menjaga disiplin keuangan, jangan gunakan pinjaman untuk memulai investasi
Disiplin ini sangat menentukan keberhasilan jangka panjang.
(dag/dag)
[Gambas:Video CNBC]















































