2 Ramadhan, Ketika Mongol Dipecundangi Tentara Islam dan Perkataan Ibnu Taimiyah Menggugah

2 weeks ago 14

Warga melihat dekorasi khas Ramadhan yang di jual di Beirut, Lebanon, Senin (24/2/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Dari permulaaan mulai penaklukkan Andalusia pada awal Ramadhan pada tahun 91 H/710 M ke Syam pada 2 Ramadhan setelah enam abad, umat Islam meraih kemenangan besar atas pasukan Mongol sehingga bulan ini layak disebut sebagai Bulan Penaklukan Besar.

Di sini, di Suriah, ada bab lain yang tidak kalah menarik, yang terjadi pada Ramadhan 702 H/ 1303 M ketika Mamluk berhasil mengakhiri ambisi Mongol untuk menaklukkan Suriah dan Mesir selamanya dalam pertempuran "Shaghab", dalam sebuah epik yang memadukan denting pedang dengan pena para ulama.

Dunia Islam mengalami momen-momen kehancuran besar pada abad ketujuh Hijriyah ketika menghadapi badai Mongol yang meluncur dari timur seperti panah, menggulingkan Kekhalifahan Abbasiyah dan Negara Ayyubiyah dalam beberapa dekade.

Meskipun mereka kalah dalam pertempuran "Ain Jalut" yang juga terjadi pada 25 Ramadhan 658 H bertepatan deengan 3 September 1260 M.

Di sana, umat Islam di bawah pimpinan Sultan Mamluk Saifuddin Qutuz menang atas pasukan Mongol di bawah pimpinan Khan Hulagu di daerah Ain Jalut, Palestina. Mongol terus mengganggu negara Mamluk, berusaha untuk mendapatkan kembali pengaruh mereka di negeri Syam.

Di bawah pemerintahan Sultan Al-Nasir Muhammad bin Qalawun, krisis mencapai puncaknya ketika Khan Mongol Ghazan mengerahkan pasukan besar yang terdiri dari lebih dari 100 ribu tentara di bawah pimpinan Qatlusha, memanfaatkan situasi yang kacau untuk menyeberangi Sungai Eufrat dan menyerbu Hama hingga ke pinggiran Damaskus.

Ibnu Taimiyah di garis depan

Pertempuran Shuqhab bukan hanya pertempuran militer, melainkan juga perang ideologi dan mobilisasi yang luar biasa, di mana peran historis ulama Taqiuddin Ibn Taymiyah sangat menonjol, yang memikul tugas-tugas berat:

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|