Jakarta, CNBC Indonesia - Manusia dihadapkan dengan tantangan baru di era perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Perubahan itu sudah mulai dirasakan dengan maraknya perusahaan melakukan PHK, lesunya perekrutan karyawan baru, hingga kesulitan fresh-graduate mendapat pekerjaan.
Banyak orang yang merasa cemas dengan perubahan cepat ini. Relevansi manusia seakan berada di ujung tombak ketika banyak pekerjaan bisa diselesaikan oleh tool-tool AI.
CEO of LinkedIn Ryan Roslansky dan LinkedIn's Chief Economic Opportunity Officer Aneesh Raman membagikan fakta menarik. Dikutip dari CNBC Internasional, Ryan dan Aneesh mengatakan banyak orang yang tidak sadar bahwa keterampilan unik manusia yang membuat kita tak tergantikan oleh AI.
Saat pasar kerja yang bergejolak saat ini, ada lima hal ini utama tidak boleh diabaikan oleh kaum muda atau para pencari kerja. Berikut ini lima skill atau kemampuan manusia yang tidak tergantikan AI. Mereka menyebutnya 5 C. Berikut perinciannya:
1. Rasa Ingin Tahu (Curiosity)
AI dapat menghasilkan kemungkinan berdasarkan pola. Namun, manusia lah yang memutuskan mana yang penting dan mereka lah yang tidak berhenti mempertanyakan sesuatu: "Bagaimana jika kita mencoba sesuatu yang sama sekali berbeda?"
Kita dapat memanfaatkan rasa ingin tahu dan keterbukaan yang menyertainya untuk mempelajari tentang AI dan bagaimana AI akan mengubah pekerjaan kita, untuk memahami diri kita sendiri dan mencari tahu apa yang membuat kita tak tergantikan, dan, yang terpenting, untuk menyelaraskan karier kita dengan rasa ingin tahu kita.
Vaksin polio ditemukan karena Jonas Salk dan rekan-rekannya bertanya-tanya apakah virus yang mati dapat mengajarkan tubuh untuk melawan virus yang hidup. Dia mungkin salah.
Namun, dia tetap meluangkan waktu untuk menguji idenya. Rasa ingin tahu adalah apa yang membuat Wilbur dan Orville Wright bertanya-tanya: Jika burung bisa terbang, mengapa kita tidak bisa?
Di tempat kerja, rasa ingin tahu membuat rutinitas tiba-tiba menjadi tentang penemuan. Dokter yang memperhatikan bahwa pasien tersentak ketika membahas sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka dan menyelidiki lebih dalam, mengungkap sumber stres yang sebenarnya.
2. Keberanian (Courage)
AI dapat menghitung risiko. Tetapi hanya manusia yang memutuskan risiko apa yang layak diambil.
Keberanian adalah kemauan untuk bertindak tanpa informasi lengkap dan untuk bergerak maju ketika hasilnya tidak dijamin. Ini adalah memilih untuk menjadi kasus uji ketika semua orang menunggu bukti.
Di tempat kerja, keberanian mengubah keraguan menjadi tindakan. Pengembang yang menyarankan kerangka kerja baru di tengah proyek untuk melayani pelanggan dengan lebih baik.
Manajer penjualan yang memberi tahu klien bahwa permintaan mereka tidak tepat, lalu membimbing mereka ke solusi yang lebih baik. Desainer lah yang mendorong rebranding total ketika semua orang tetap mempertahankan status quo.
3. Kreativitas (Creativity)
AI dapat menggabungkan kembali apa yang sudah ada. Tetapi manusia lah yang memutuskan apa yang layak untuk dipikirkan atau diproses ulang.
Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru, bukan hanya dengan menggabungkan kembali elemen yang sudah ada, tetapi dengan
membayangkan kemungkinan yang belum pernah ada sebelumnya.
Di tempat kerja, kreativitas tidak terbatas pada peran "kreatif". Contohnya, perawat yang memberikan perlengkapan kenyamanan untuk pasien yang cemas setelah memperhatikan apa yang bisa membantu mereka rileks.
Analis data yang memvisualisasikan informasi dengan cara yang membuat pola yang tidak terlihat tiba-tiba menjadi jelas. Guru yang mengubah ruang kelasnya menjadi lokasi penggalian arkeologi tiruan untuk mengajarkan sejarah kepada muridnya.
Semua orang itu tidak hanya memecahkan masalah tetapi juga menciptakan cara baru untuk menanggapi situasi yang tidak dilihat orang lain.
4. Belas Kasih/ Welas Asih (Compassion)
AI dapat mensimulasikan kepedulian. Akan tetapi, harus diingat, hanya manusia yang merasakannya dan mengungkapkannya.
Kasih sayanglah yang membuat kita menjadi manusia di tempat kerja, bukan sekadar karyawan di tempat kerja. Kasih sayang mengubah transaksi menjadi hubungan dan tim menjadi komunitas.
Manajer yang memperhatikan kinerja karyawan menurun dan mengetahui bahwa mereka sedang merawat orang tua yang sakit, lalu diam-diam mengatur jam kerja yang fleksibel untuk mereka adalah salah satu contoh belas kasih atau welas asih.
Contoh lainnya adalah pegawai dari layanan pelanggan yang tetap berbicara di telepon lebih lama dari yang dibutuhkan dengan pelanggan yang bingung, membimbingnya melalui setiap langkah.
5. Komunikasi (Communication)
AI dapat menerjemahkan bahasa. Namun, hanya manusia yang dapat mengubah bahasa menjadi makna. Di tempat kerja, komunikasi menentukan apakah ide-ide akan layu atau berkembang.
Ryan dan Aneesh pun mencontohkan kasus mereka dalam menulis buku mengenai AI. Mereka ingin mengkomunikasikan sebuah cerita yang membantu semua orang memahami dan mengelola momen perubahan besar di tempat kerja ini, terutama bagi Anda yang merasa cemas, bingung, atau skeptis.
AI membantu di beberapa momen, menawarkan umpan balik struktural atau menyempurnakan contoh. Tetapi yang benar-benar membentuk buku keduanya ini justru berasal dari manusia: percakapan tatap muka, pemikiran yang mendalam, dan gesekan ide.
Dengan setiap kata, kami harus berpikir mendalam tentang pengalaman manusia dalam mencoba memproses momen perubahan besar dan bagaimana, mudah-mudahan, pada akhirnya, memberi setiap orang kendali atasnya.
"Untuk melakukan itu, Anda perlu mengenal manusia. Anda perlu menjadi manusia," ujar Aneesh.
(haa/haa)
Addsource on Google


















































