5 Pertanyaan tentang Fakta Mengejutkan di Balik Strategi Iran Jebak Amerika

4 hours ago 2

Wanita Iran berjalan di dekat poster mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamnei saat menghadiri pemakaman korban serangan Israel dan AS, di pemakaman Behesht Zahra di selatan Teheran, Iran, 26 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang tidak selalu dimenangkan oleh siapa yang paling banyak menembak. Dalam banyak kasus, ia dimenangkan oleh siapa yang mampu mengatur ritme, kapan harus menahan, kapan harus bergerak, dan kapan membuat lawan kehilangan arah.

Di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, muncul satu pola yang tidak kasat mata namun menentukan: Iran tampak menahan diri, sementara Amerika justru terjebak dalam tekanan yang semakin melebar.

Gencatan senjata yang diumumkan tidak serta-merta mengakhiri konflik. Justru dari sanalah narasi baru dimulai. Siapa yang benar-benar diuntungkan? Siapa yang sedang mengendalikan permainan?

Lebih penting lagi: apakah ini benar-benar jeda menuju damai, atau sekadar perubahan medan tempur dari militer ke diplomasi?

Berikut ini adalah jawaban-jawaban pertanyaan tersebut sebagaimana yang diberitakan Tasnim, Yeni Safak, dan Sputnik.

Apakah Iran benar-benar menahan diri setelah gencatan senjata?

Berdasarkan pemberitaan yang dibuat Yeni Safak Turki, Iran secara tegas menyatakan tidak melakukan agresi lanjutan setelah kesepakatan dicapai. Dalam pernyataan resminya, Korps Garda Revolusi Iran menegaskan:

“Angkatan Bersenjata Iran sama sekali tidak menembakkan satu tembakan pun ke negara mana pun sejak gencatan senjata dimulai.”

Namun, sikap ini tidak berarti kelemahan. Juru bicara militer Iran juga mengingatkan bahwa kesiapan tempur tetap dijaga penuh:

“Kami berharap pembicaraan ini akan berhasil, tetapi jika gagal, kami siap untuk perjuangan panjang.”

Artinya, Iran memilih strategi defensif yang kalkulatif, tenang di permukaan, tetapi siap menghadapi segala kemungkinan.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|