Jakarta, CNBC Indonesia - Modus penipuan digital terus berkembang, dengan pelaku kini semakin banyak memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan keberhasilan serangan rekayasa sosial.
Menurut laporan terbaru Visa, The Anti-Scam Playbook: Market Responses and Industry Insights (Mei 2025), kerugian global akibat penipuan mencapai lebih dari US$1 triliun dalam periode Agustus 2022 hingga Agustus 2023. Di Asia saja, kerugian pada 2024 diperkirakan mencapai US$ 688 miliar, menjadikannya salah satu kawasan dengan dampak ekonomi terbesar akibat penipuan digital.
"Dari pola yang kami amati di jaringan global Visa, kami melihat bahwa penipuan tidak lagi mengandalkan satu trik saja. Modusnya akan menjadi semakin kompleks, menggabungkan suara, video, dan teks yang dihasilkan AI dan disesuaikan dengan bahasa, kebiasaan, bahkan emosi korbannya. Artinya, bukan hanya eksekutif perusahaan yang menjadi target, tetapi juga masyarakat umum yang menerima pesan teks dengan suara yang terdengar seperti kerabat mereka sendiri," ujar Nitia, Head of Risk, Visa Indonesia, Rabu (4/3/2026)
Tren Penipuan di Asia: Social Engineering dan Transaksi A2A
Visa mendefinisikan scam sebagai pembayaran yang disetujui korban karena mereka tertipu-berbeda dengan fraud, yang umumnya terjadi tanpa sepengetahuan pemilik rekening. Saat ini, semakin banyak penipuan terjadi melalui transaksi pemindahan uang atau account-to-account (A2A), tidak lagi terbatas pada kartu pembayaran.
Pergeseran lintas kanal ini sejalan dengan pesatnya pertumbuhan pembayaran digital dan transaksi real-time di kawasan Asia Pasifik. Laporan tersebut juga mencatat bahwa hampir setengah populasi dunia mengalami percobaan penipuan setidaknya sekali setiap minggu.
Pengguna digital banking maupun aplikasi digital kerap menjadi sasaran rekayasa sosial yang membuat mereka memberikan data pribadi atau akses ke informasi perbankan. Para pelaku biasanya mengarahkan korban untuk mengklik tautan yang tampak meyakinkan, sehingga memungkinkan mereka mengakses akun korban.
Posisi Indonesia dalam Lanskap Regional
Indonesia termasuk negara yang telah mengadopsi berbagai inisiatif anti-scam, mulai dari penguatan autentikasi, kolaborasi lintas industri, hingga kampanye peningkatan kesadaran publik, yang sejalan dengan praktik di tingkat regional.
Pertumbuhan pesat dompet digital, pembayaran QR, dan transaksi real-time menunjukkan percepatan transformasi digital nasional. Kemudahan ini membawa manfaat besar, namun juga menuntut perlindungan konsumen yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Pola penipuan di Indonesia juga menunjukkan adaptasi lokal, termasuk penggunaan bahasa daerah, pengatasnamaan institusi resmi, serta peniruan promo dari platform populer. Hal ini menegaskan pentingnya strategi mitigasi yang kontekstual dan relevan dengan dinamika lokal.
Pendekatan Whole-of-Ecosystem
Visa menekankan bahwa upaya pencegahan penipuan yang efektif memerlukan pendekatan whole-of-ecosystem, yang melibatkan lembaga keuangan, penyedia telekomunikasi, platform digital, jaringan pembayaran, regulator, penegak hukum, hingga konsumen sebagai bagian integral dari sistem perlindungan.
Di beberapa negara seperti Singapura, Australia, dan Taiwan, kerangka liability dan accountability telah menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat perlindungan konsumen, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan struktur sistem pembayaran masing-masing negara.
Inisiatif Visa
Seiring pelaku kejahatan semakin canggih, Visa terus memperkuat pertahanannya melalui investasi strategis. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan telah mengalokasikan lebih dari US$13 miliar untuk teknologi dan inovasi, menghadirkan sistem berbasis AI yang menganalisis miliaran data di 11 miliar endpoint dan lebih dari 200 miliar transaksi setiap tahun. Kapabilitas ini memungkinkan Visa memblokir hampir dua kali lebih banyak transaksi e-commerce yang bersifat fraud pada 2025, sehingga menurunkan tingkat fraud di seluruh jaringannya.
Melengkapi kemajuan teknologi tersebut, kerangka pertahanan berlapis (multi-layered) Visa dirancang untuk mendeteksi risiko yang muncul sejak dini dan memperkuat ketahanan keseluruhan ekosistem pembayaran. Melalui kolaborasi erat dengan bank, platform fintech, dan mitra industri, Visa secara proaktif menguji vektor ancaman baru, membagikan intelijen yang dapat ditindaklanjuti, dan menyediakan panduan berkelanjutan untuk memperkuat pertahanan bersama.
Dengan dukungan kolaborasi lintas sektor dan edukasi konsumen yang berkesinambungan, upaya-upaya ini menjadi fondasi ekosistem pembayaran digital yang lebih aman dan tangguh, terutama di tengah maraknya penipuan berbasis AI, termasuk di Indonesia.
Lebih lanjut, Nitia juga memberikan beberapa tips agar konsumen tidak terjebak penipuan berbasis AI. Pertama adalah dengan mewaspadai pesan atau panggilan yang terdengar terlalu meyakinkan atau mendesak.
Konsumen juga diimbau untuk tidak langsung percaya pada konten visual atau audio tanpa melakukan verifikasi dan selalu menggunakan kanal resmi untuk melakukan transaksi atau memberikan informasi pribadi.
"Aktifkan fitur keamanan berlapis seperti autentikasi dua faktor dan serta segera laporkan setiap aktivitas mencurigakan kepada pihak bank, atau penyedia layanan keuangan terkait," ujar Nitia.
(rah/rah)
Addsource on Google


















































