
Foto ilustrasi anak-anak bermain ponsel, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Game online seperti Roblox, Minecraft, dan Fortnite telah menjadi bagian dari kehidupan banyak anak dan remaja. Selain menawarkan hiburan, game-game tersebut juga menjadi ruang bagi anak untuk berinteraksi, bekerja sama, dan menjalin pertemanan dengan pemain lain dari berbagai daerah bahkan negara.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, dunia game online juga menyimpan sejumlah risiko. Ancaman seperti cyberbullying, penipuan, kontak dari orang asing, hingga paparan konten yang tidak sesuai usia dapat muncul tanpa disadari.
Karena itu, tantangan bagi orang tua saat ini bukan lagi sekadar membatasi waktu bermain, melainkan memastikan anak mampu beraktivitas secara aman di lingkungan digital yang semakin kompleks.
Bangun Komunikasi Terbuka dengan Anak
Langkah paling mendasar adalah menciptakan komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan. Anak perlu merasa nyaman untuk menceritakan pengalaman mereka saat bermain game, termasuk ketika menghadapi situasi yang membuat mereka tidak nyaman.
Orang tua sebaiknya menjadi tempat pertama yang dituju anak ketika menghadapi masalah di dunia digital. Hindari reaksi yang terlalu keras atau langsung menyalahkan anak saat mereka bercerita mengenai pengalaman negatif.
Dengan pendekatan yang suportif, anak akan lebih mudah meminta bantuan ketika menghadapi ancaman atau perilaku yang mencurigakan.
Luangkan Waktu Bermain Bersama
Salah satu cara terbaik memahami dunia digital anak adalah ikut bermain bersama mereka. Pendampingan langsung memungkinkan orang tua mengenal fitur permainan, sistem komunikasi antarpemain, serta potensi risiko yang ada di dalam game.
Selain meningkatkan pemahaman tentang lingkungan game, aktivitas ini juga dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak.
Tak perlu menjadi pemain yang ahli. Ketertarikan untuk memahami hobi anak sering kali sudah cukup untuk membangun kedekatan dan membuka ruang diskusi mengenai keamanan online.
Manfaatkan Fitur Keamanan dan Kontrol Orang Tua
Sebagian besar platform game modern menyediakan pengaturan privasi dan kontrol orang tua yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keamanan anak.
Fitur-fitur tersebut biasanya memungkinkan orang tua membatasi komunikasi dengan pemain lain, mengatur waktu bermain, hingga memantau aktivitas tertentu yang berpotensi menimbulkan risiko.
Penggunaan teknologi pendukung juga dapat membantu orang tua mendeteksi potensi ancaman lebih dini tanpa harus mengawasi anak secara berlebihan.
Ajarkan Anak Mengenali Risiko Digital
Edukasi mengenai keamanan digital perlu dilakukan secara rutin. Alih-alih memberikan larangan, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi tentang berbagai situasi yang mungkin mereka hadapi saat bermain game online.
Misalnya, bagaimana jika seseorang meminta informasi pribadi, menawarkan hadiah virtual dengan imbalan tertentu, atau mengajak berkomunikasi di luar platform permainan.
Pendekatan berbasis diskusi akan membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan yang lebih aman ketika menghadapi situasi berisiko.
Libatkan Anak dalam Pengaturan Privasi
Pengaturan keamanan akan lebih efektif jika anak memahami alasan di balik aturan tersebut. Karena itu, orang tua disarankan melibatkan anak saat mengatur fitur privasi dan keamanan pada perangkat maupun akun game mereka.
Dengan cara ini, anak tidak merasa diawasi secara berlebihan atau kehilangan kebebasan. Sebaliknya, mereka akan memahami bahwa aturan dibuat untuk melindungi, bukan membatasi.
Ajarkan Cara Memblokir dan Melaporkan Pengguna
Keterampilan praktis juga penting diajarkan sejak dini. Anak perlu mengetahui cara memblokir akun yang mengganggu, melaporkan perilaku tidak pantas, dan menghentikan komunikasi yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
Orang tua dapat melakukan simulasi sederhana agar anak memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi tersebut.
Kemampuan mengenali ancaman dan mengambil tindakan secara mandiri menjadi bekal penting bagi anak dalam menjelajahi dunia digital yang semakin luas.
Pada akhirnya, tujuan utama bukanlah melarang anak bermain game online. Pendampingan yang tepat, komunikasi yang terbuka, serta edukasi mengenai keamanan digital akan membantu anak menikmati manfaat teknologi dengan lebih aman, percaya diri, dan bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































