AS Bisa Tamat, Senjata Pembunuh Murah Buatan Iran Susah Dilawan

8 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi militer berbasis drone disebut mulai mengubah peta kekuatan dan berpotensi memberi keuntungan besar bagi negara-negara yang mampu memproduksinya secara massal dengan biaya murah.

Drone kamikaze Shahed-136 yang pertama kali dikembangkan Iran kini menjadi salah satu senjata paling diperhitungkan dalam perang modern. Teknologi ini bahkan telah digunakan Rusia dalam invasinya ke Ukraina serta menjadi bagian penting strategi militer Iran menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya.

Drone tersebut dikenal relatif sederhana dibandingkan teknologi senjata canggih lain. Namun para analis menyebut keunggulannya terletak pada biaya produksi yang jauh lebih murah serta kemampuannya diluncurkan dalam jumlah besar.

Analis dari Missile Defense Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Patrycja Bazylczyk, mengatakan teknologi drone murah seperti Shahed memberi keuntungan besar bagi negara yang menggunakannya.

"Shahed-136, bersama sistem udara tanpa awak lainnya, memberi negara seperti Rusia dan Iran cara murah untuk menimbulkan biaya yang sangat besar bagi musuhnya," kata Bazylczyk, dikutip dari CNBC International, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan drone tersebut memaksa negara lawan menghabiskan sistem pertahanan mahal untuk mencegat senjata yang jauh lebih murah, memproyeksikan kekuatan, dan menciptakan tekanan psikologis bagi sipil.

Data pemerintah Amerika Serikat menyebut satu drone Shahed-136 diperkirakan hanya berharga sekitar US$20.000 hingga US$50.000. Sebaliknya, satu rudal pencegat sistem pertahanan udara bisa menelan biaya antara US$3 juta hingga US$12 juta.

Ketimpangan biaya ini membuat strategi serangan drone massal menjadi sangat efektif dalam melemahkan sistem pertahanan udara lawan.

Direktur Program Iran di Foundation for Defense of Democracies, Behnam Ben Taleblu, bahkan menyebut drone tersebut sebagai rudal jelajah orang miskin.

Menurutnya, senjata ini memberikan cara murah bagi negara yang menghadapi sanksi atau keterbatasan teknologi untuk tetap melancarkan serangan terhadap musuhnya.

Sejak diperkenalkan sekitar 2021, drone Shahed-136 telah menarik perhatian dunia setelah digunakan Rusia dalam perang Ukraina. Moskow bahkan mulai memproduksinya sendiri berdasarkan desain Iran.

Para analis menilai tren penggunaan drone murah yang diproduksi massal ini akan menjadi ciri utama medan perang modern, karena mampu memberikan tekanan besar terhadap sistem pertahanan konvensional yang jauh lebih mahal.

Sementara itu, sejumlah negara kini mulai mengembangkan berbagai cara baru untuk menghadapi serangan drone, mulai dari rudal pencegat murah, perang elektronik, hingga sistem energi terarah.

Namun para pakar memperingatkan bahwa pengembangan sistem anti-drone yang efektif dan terjangkau masih membutuhkan waktu bertahun-tahun.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|