Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Harianjogja.com, WASHINGTON—Pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga 10 juta dolar AS atau sekitar Rp169,5 miliar bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai lokasi pemimpin baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Tawaran tersebut diumumkan melalui program Rewards for Justice (RFJ) milik Departemen Luar Negeri AS.
Program Rewards for Justice (RFJ) menyatakan hadiah tersebut juga berlaku untuk informasi mengenai sejumlah pejabat penting Iran yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Program tersebut merupakan inisiatif pemerintah Amerika Serikat untuk memperoleh informasi terkait individu yang dianggap terlibat dalam aktivitas terorisme internasional.
"Rewards for Justice menawarkan hadiah hingga 10 juta dolar AS (sekitar Rp169,5 milyar) untuk informasi tentang para pemimpin kunci Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan cabang-cabang komponennya. Individu-individu ini memimpin dan mengarahkan berbagai elemen IRGC, yang merencanakan, mengatur, dan melaksanakan terorisme di seluruh dunia," kata RFJ dalam sebuah pernyataan.
Selain Ayatollah Mojtaba Khamenei, RFJ menyebut sejumlah pejabat lain yang juga menjadi target informasi. Mereka antara lain Wakil Kepala Staf di Kantor Pemimpin Tertinggi (SLO) Ali Asghar Hejazi, Penasihat SLO Ali Larijani, Menteri Dalam Negeri Brigjen Eskandar Momeni, serta Menteri Intelijen dan Keamanan Iran Esmail Khatib.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangan militer yang terjadi pada 28 Februari. Pada saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban sipil dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa tersebut kemudian dibalas oleh Iran melalui serangan terhadap wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei, putranya, Mojtaba Khamenei, disebut terpilih sebagai pemimpin baru Iran. Hingga kini otoritas Iran tidak mengumumkan perubahan lain dalam struktur kepemimpinan militer negara tersebut.
Amerika Serikat dan Israel pada awalnya menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan langkah pendahuluan untuk menghadapi ancaman yang dinilai berasal dari program nuklir Iran. Namun kemudian keduanya juga menyatakan tujuan yang lebih luas, yakni mendorong terjadinya perubahan rezim di Iran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara


















































