REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Angin yang dipenuhi debu menyapu Jalur Gaza pada hari Sabtu. Hal ini menambah penderitaan ribuan pengungsi Palestina yang tinggal di tenda-tenda usang setelah rumah mereka hancur akibat serangan Israel.
Jurnalis Muhammad Rabah dari Gaza melaporkan bahwa kondisi cuaca badai menyebar ke seluruh wilayah tersebut. Pasir dan debu menembus tenda-tenda dan membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih sulit di tempat penampungan yang bahkan tidak memiliki perlindungan paling dasar sekalipun.
Warga yang mengungsi – terutama mereka yang menderita penyakit pernapasan kronis – menyuarakan keprihatinan mengenai memburuknya kondisi kesehatan akibat badai tersebut. Terlebih di tengah tidak adanya tindakan pencegahan dan perawatan medis yang memadai di dalam tempat penampungan yang rapuh.
Meskipun ada perjanjian gencatan senjata, krisis kemanusiaan di Gaza belum menunjukkan perbaikan nyata karena kegagalan Israel memenuhi komitmennya berdasarkan perjanjian tersebut. Israel tak kunjung mengizinkan masuknya material tempat berlindung seperti tenda dan rumah mobil, serta perlengkapan konstruksi yang diperlukan untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur.
Perjanjian tersebut mengakhiri agresi skala besar yang berlangsung hampir dua tahun, menyebabkan puluhan ribu orang tewas dan terluka serta menyebabkan kehancuran besar di seluruh Jalur Gaza.
Penampakan badai pasir melanda wilayah Gaza sejak Sabtu (14/3/2026).
Palestine Chronicles melaporkan, dua warga Palestina syahid dan dua lainnya terluka saat fajar pada hari Sabtu setelah serangan Israel menargetkan kantor polisi di sebelah barat Khan Yunis di Jalur Gaza selatan. Sumber medis mengidentifikasi para korban sebagai Ahmed Mohammed Al-Maghrabi (35) dan Musab Ghazi Al-Raqab (43).
Serangan ini merupakan bagian dari pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang dicapai Oktober lalu.
Sebelumnya pada Jumat malam, tiga warga Palestina, termasuk dua remaja, syahid dalam serangan udara Israel yang menargetkan sekelompok warga sipil di Shujaiya, sebelah timur Kota Gaza.
Sumber medis menyebutkan para korban terkena rudal Israel saat berada di Jalan Mushtaha. Para korban diidentifikasi sebagai: Mahmoud Saher Al-Siqli (17), Younis Sa’ed Ayad (17), dan Abdullah Tayseer Shomer (20). Jenazah mereka diangkut ke Rumah Sakit Al-Ma'madani di Kota Gaza, menurut pejabat medis.
Penampakan badai pasir melanda wilayah Gaza sejak Sabtu (14/3/2026).
Sumber-sumber Palestina yang dikutip oleh Quds News Network mengatakan serangan itu terjadi di wilayah di luar kendali Israel, meskipun ada perjanjian gencatan senjata. Israel masih menduduki lebih dari 50 persen Jalur Gaza, sesuai ketentuan gencatan senjata.
Sejak perjanjian tersebut berlaku, penembakan dan tembakan Israel terus berlanjut hampir setiap hari. Sumber-sumber Palestina menyebutkan pelanggaran tersebut mengakibatkan 651 warga Palestina tewas dan 1.741 luka-luka.
Antara 7 Oktober 2023 hingga 7 Maret 2026, lebih dari 1.060 warga Palestina, termasuk setidaknya 231 anak-anak, dibunuh di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, oleh pasukan atau pemukim Israel. Hal ini menunjukkan peningkatan kekerasan yang signifikan di wilayah tersebut bersamaan dengan genosida di Gaza.

4 hours ago
4
















































