Newswire Selasa, 22 September 2026 12:17 WIB

Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific
Harianjogja.com, BANTUL— Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencatat durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), HTH di Bantul mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan akibat dampak El Nino kategori sangat kuat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan tren kekeringan meteorologis ekstrem saat ini semakin meluas. Kondisi tersebut telah melanda pos-pos pengamatan iklim di 25 provinsi.
“Banyak lokasi pengamatan melaporkan HTH berurutan lebih dari 60 hari. Rekor HTH terpanjang saat ini berada di wilayah Bantul yaitu sepanjang 131 hari,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Menurut Ardhasena, meluasnya periode tanpa hujan tersebut dipicu fenomena El Nino kategori sangat kuat di Samudra Pasifik. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 pada periode Juli-September 2026 tercatat menembus angka +2,63.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada 556 Zona Musim (ZOM) atau 61,91 persen luas daratan Indonesia yang hingga saat ini masih mengalami musim kemarau panjang.
Tekanan iklim akibat El Nino 2026 bahkan turut menyebabkan 98 dari total 110 ZOM yang berkategori basah sepanjang tahun berbalik mengalami kemarau.
Musim Hujan Mulai November 2026
Meski fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga kuartal pertama 2027, BMKG memperkirakan dampak kekeringan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia akan berangsur mereda.
Peredaan tersebut seiring dengan masuknya awal musim hujan secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia.
“Awal musim hujan berlangsung secara bertahap, diawali pada November 2026 sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan, disusul Desember 2026 sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan,” kata Ardhasena.
Kendati awal musim hujan datang terlambat, BMKG memprakirakan akumulasi curah hujan pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia berada pada kategori normal.
Sementara itu, puncak musim hujan diproyeksikan berlangsung secara bergelombang. Pada Desember 2026, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di 155 ZOM atau 36,94 persen daratan.
Kemudian pada Januari 2027, puncak musim hujan diproyeksikan terjadi di 162 ZOM atau 25,68 persen daratan. Selanjutnya, pada Februari 2027, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung di 190 ZOM atau 16,79 persen daratan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































