Newswire Selasa, 22 September 2026 12:27 WIB

Ilustrasi Kekeringan - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Fenomena El Nino sangat kuat sepanjang 2026 membuat 98 Zona Musim (ZOM) yang biasanya memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun kini berbalik mengalami musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik yang mencapai rata-rata +2,63. Kondisi itu menekan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
"Secara klimatologis Indonesia memiliki 110 ZOM tipe basah sepanjang tahun. Namun pada 2026 ini sebanyak 98 ZOM diantaranya ikut terdampak kekeringan dan mengalami musim kemarau," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Ardhasena mengatakan dampak El Nino saat ini masih dirasakan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebanyak 556 ZOM atau 61,91 persen dari total luas daratan Indonesia masih berada dalam cengkeraman musim kemarau panjang.
HTH Ekstrem Melanda 25 Provinsi
Fenomena El Nino juga memicu Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem di 25 provinsi.
Durasi HTH terlama tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan tanpa hujan.
Selain Bantul, Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB) juga mengalami HTH panjang dengan durasi mencapai 120 hari.
Sementara itu, indikator Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia saat ini berada pada angka positif 0,376 dan masuk kategori netral.
BMKG menyebut IOD tersebut berpeluang menuju fase positif hingga akhir 2026.
El Nino Diproyeksikan Bertahan hingga 2027
BMKG memproyeksikan fenomena El Nino masih akan bertahan setidaknya hingga akhir kuartal pertama 2027.
Meski demikian, ancaman kekeringan di Indonesia diprediksi berangsur berakhir seiring masuknya musim hujan secara bertahap.
Kondisi tersebut diharapkan secara bertahap mengakhiri periode musim kemarau panjang yang saat ini masih melanda ratusan Zona Musim di Indonesia.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut (SPL) di atas kondisi normal yang terjadi di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Perubahan suhu ini memicu pergeseran pola sirkulasi atmosfer global, yang berdampak pada penurunan curah hujan secara drastis di wilayah Indonesia dan sekitarnya.
Fenomena El Niño umumnya memicu kondisi kemarau panjang, kekeringan pada sumber air, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain berdampak pada sektor lingkungan, El Niño juga memukul sektor pertanian akibat kegagalan panen dan mengganggu pasokan pangan nasional, sehingga memerlukan langkah antisipasi serta manajemen krisis air yang matang dari pemerintah dan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































