Newswire Selasa, 22 September 2026 12:47 WIB

Hanung Bramantyo mengungkap latar belakang 7 Setan Desa dalam film Lobang Buaya yang disebut masih relevan dengan kondisi sosial Indonesia. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA— Sutradara Hanung Bramantyo mengungkap latar belakang pengangkatan isu sejarah masa lalu dalam film terbarunya, Lobang Buaya. Film bergenre horor tersebut tidak hanya mengandalkan ketakutan visual, tetapi juga mengangkat persoalan sejarah yang menurut Hanung masih relevan dengan kondisi sosial-politik Indonesia saat ini.
Hal itu disampaikan Hanung seusai acara nonton bareng pada Senin (21/9/2026) malam. Dia menjelaskan ide cerita Lobang Buaya bertumpu pada fragmen kisah sebelum peristiwa kelam 1965.
Hanung mengambil inspirasi dari propaganda politik pada 1963-1965 mengenai kampanye "Mengganjang 7 Setan Desa".
"Sebenarnya ini bukan murni kisah nyata, tetapi latar belakangnya nyata. Kalau kita membaca sejarah, pada tahun 1963, Partai Komunis Indonesia melancarkan propaganda mengganjang Tujuh Setan Desa. Mereka ini dipandang sebagai pihak yang menghisap dan menindas petani," ujar Hanung.
Istilah 7 Setan Desa pada masa itu merujuk pada tujuh elemen yang dianggap sebagai penindas masyarakat desa. Unsur tersebut antara lain tuan tanah jahat, kapitalis birokrat, pengijon atau rentenir, tengkulak, hingga oknum penguasa.
Dalam film Lobang Buaya, elemen-elemen tersebut digambarkan melalui figur pejabat dan penguasa desa yang membuat seorang perempuan menjadi korban kezaliman.
Bentuk 7 Setan Desa Dinilai Berubah
Hanung menegaskan sosok "Setan Desa" tidak berhenti atau hilang bersama catatan sejarah masa lalu. Menurut dia, praktik-praktik penindasan tersebut masih berlanjut hingga saat ini meski muncul dalam bentuk dan wujud yang berbeda.
"Tujuh Setan Desa itu ternyata masih ada sampai sekarang. Cuma wujudnya saja yang berganti. Tuan tanah berganti jadi korporasi, kapitalis birokrat diganti pejabat korup yang membuat aturan mempermudah korporasi tapi mempersulit rakyat, lalu rentenir diganti pinjaman online [pinjol] yang mencekik," tegasnya.
Dia juga menyinggung fenomena sosial ketika masyarakat desa kerap diam menyaksikan kezaliman yang terjadi di sekitarnya. Fenomena tersebut antara lain berkaitan dengan alih fungsi lahan dan pengrusakan lingkungan oleh korporasi.
Peristiwa 1965 Dikemas dalam Genre Horor
Hanung mengatakan pemilihan genre horor untuk menyampaikan isu sejarah yang sensitif merupakan bagian dari strategi penceritaan atau storytelling.
Menurut dia, peristiwa 1965 masih dianggap sensitif di Indonesia. Karena itu, medium horor dinilai menjadi cara untuk menyampaikan pesan tanpa memicu trigger berlebihan kepada penonton.
"Di Indonesia, peristiwa '65 masih sensitif. Tidak seperti di luar negeri yang bebas membuat film drama sejarah secara terbuka. Maka kita kemas dalam genre ini," jelas Hanung.
Selain pertimbangan tersebut, Hanung mengakui faktor pasar internasional turut memengaruhi pilihan genre Lobang Buaya.
Saat film tersebut ditayangkan di Festival Film Internasional Rotterdam, pihak distributor asing secara terbuka menyatakan lebih berminat membeli film bergenre horor dibandingkan drama.
"Genre horor tidak hanya laku di dalam negeri, tetapi juga sangat diminati di pasar internasional," imbuhnya.
Lobang Buaya menjadi film horor keempat dalam rekam jejak penyutradaraan Hanung Bramantyo. Sebelumnya, dia menggarap Lentera Merah, Legenda Sundel Bolong, dan Trinil.
Dari sisi struktur penceritaan, Hanung mengaku terinspirasi dari film favoritnya, Seven (1995). Konsep dasar tujuh dosa besar dalam film tersebut kemudian dilokalkan ke dalam konteks sejarah sosial Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































