Jumali Rabu, 24 Juni 2026 12:37 WIB

Héctor Chávez, atau yang lebih dikenal sebagai “Caramelo”/ AP Photo
Harianjogja.com, JOGJA—Lama setelah peluit panjang berbunyi dalam kemenangan Meksiko atas Korea Selatan di Piala Dunia 2026, kerumunan suporter masih bertahan di luar stadion.
Mereka bukan lagi menunggu pemain, melainkan mengantre untuk berfoto dengan seorang pria bertopi sombrero besar yang telah menjadi ikon fanatisme sepak bola Meksiko: Héctor Chávez, atau yang lebih dikenal sebagai “Caramelo”.
Julukan Caramelo—yang berarti “permen”—telah melekat pada dirinya sejak lama dan menjadikannya salah satu figur suporter paling dikenal dalam sejarah sepak bola Meksiko. Pertandingan melawan Korea Selatan di Guadalajara menjadi laga ke-543 yang ia saksikan secara langsung sejak pertama kali mendukung tim nasional pada 1986.
Kini di usia 64 tahun, Caramelo menjalani Piala Dunia ke-11 bersama putranya, Héctor Chávez Jr., yang juga dikenal sebagai Caramelo Jr. Keduanya kerap tampil mencolok dengan sombrero raksasa bertuliskan nama panggilan mereka.
“Meksiko memiliki salah satu basis penggemar terbaik di dunia… saya sangat beruntung bisa berada di sini bersama putra saya,” ujar Caramelo kepada Associated Press.
Perjalanan panjangnya dimulai pada 19 Februari 1986 saat pertama kali menyaksikan laga timnas Meksiko melawan Uni Soviet. Beberapa bulan kemudian, ia sudah merasakan atmosfer Piala Dunia pertamanya ketika Meksiko menghadapi Belgia. Sejak saat itu, ia mengaku tak pernah melewatkan turnamen empat tahunan tersebut, termasuk edisi 2026 yang digelar di tanah kelahirannya.
Namun, perjalanan menuju Piala Dunia kali ini tidak lagi mudah. Caramelo mengaku biaya yang semakin tinggi membuat banyak rekannya tidak bisa ikut menyaksikan langsung pertandingan. Ia bahkan harus menguras tabungan demi tetap hadir di stadion.
“Ini Piala Dunia paling mahal dalam sejarah,” katanya. “Kami bekerja keras untuk bisa berada di sini, tetapi akhirnya kami berhasil.”
Meski begitu, popularitasnya tidak selalu diiringi pujian. Ia beberapa kali mendapat kritik karena aksinya yang menarik perhatian, termasuk saat melempar topi ke lapangan dalam sebuah pertandingan. Namun, putranya menanggapi hal tersebut dengan santai dan memilih fokus pada dukungan para penggemar.
Fenomena suporter ikonik seperti Caramelo bukan hal baru di dunia sepak bola. Spanyol pernah memiliki Manolo el del bombo, Brasil memiliki “Gaúcho da Copa”, sementara Kongo dikenal dengan Michel Nkuka Mboladinga yang kerap tampil unik di tribun.
Di balik popularitasnya, Caramelo juga menyoroti perubahan atmosfer stadion modern. Menurutnya, mahalnya harga tiket membuat suporter sejati semakin sulit hadir secara langsung.
“Saya merindukan suporter yang bernyanyi selama 90 menit penuh,” ujarnya.
Meski begitu, Caramelo dan putranya tetap berkomitmen mengikuti perjalanan Meksiko selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Di usia senja, ia menjadi simbol bahwa loyalitas terhadap tim nasional tidak lekang oleh waktu—dan dapat diwariskan lintas generasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































