Chapter Jogja 2026 Perluas Jaringan Seniman dan Kolektor

3 hours ago 2

Chapter Jogja 2026 Perluas Jaringan Seniman dan Kolektor

Seorang pengunjung melihat karya dalam Chapter Jogja Art Fair (JAF) 2026 di JNM pada Selasa (23/6/2026)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani

JOGJA—Gelaran Chapter Jogja Art Fair (JAF) 2026 memasuki hari terakhir penyelenggaraan di Jogja National Museum (JNM), Selasa (23/6/2026). Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, ajang seni rupa berbasis art fair ini mencatat antusiasme pengunjung yang tinggi sekaligus membuka peluang baru bagi galeri dan seniman untuk bertemu dengan kolektor.

Direktur Artistik Chapter Jogja, Ignatia Nilu, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan sejumlah perbedaan dibandingkan edisi perdana, mulai dari lokasi hingga komposisi peserta yang terlibat.

“Secara format masih sama karena ini art fair, jadi partisipannya adalah galeri yang kemudian mengkurasi seniman yang akan mereka tampilkan. Namun tahun ini ada beberapa peserta baru dan karya-karya yang sangat menarik, termasuk karya-karya yang memiliki nilai sejarah,” ujarnya.

Tahun ini, Chapter Jogja menghadirkan empat galeri, yakni Nadi Gallery dari Jakarta, Artemist Art dari Kuala Lumpur, Le Gareca Art Gallery dari Yogyakarta, dan ArtSociates dari Bandung. Selain itu, tiga komunitas seni dari Yogyakarta juga turut berpartisipasi, yaitu MES 56, Krack! Printmaking Collective, dan Versus Project.

Menurut Nilu, kehadiran Le Gareca Art Gallery menjadi salah satu hal yang istimewa karena membawa karya-karya bersejarah dari Kelompok Desenta dan maestro seni rupa Indonesia, Fajar Sidik. Sosok tersebut dikenal sebagai pelopor mazhab seni “dinamika keruangan” dan pernah mengajar di cikal bakal Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sementara itu, Versus Project yang digagas seniman Eko Nugroho menjadi daya tarik tersendiri. Komunitas ini dikenal sebagai ruang bagi seniman muda yang mengangkat subkultur, perubahan masyarakat urban, hingga seni pop dan lowbrow.

“Spirit yang dibawa Versus menarik karena dulu karya-karya seperti itu lebih banyak hadir di ruang alternatif. Sekarang sudah semakin diakui pasar dan mendapat ruang yang lebih luas,” katanya.

Selain pameran karya, Chapter Jogja tahun ini juga menghadirkan performance art dari seniman Tisna Sanjaya melalui ArtSociates. Salah satu karya yang ditampilkan adalah Art Washing, yang mengangkat kritik sosial dan politik serta pernah dipresentasikan ulang sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum seniman S. Teddy D.

Pengunjung juga dapat menikmati karya seni publik monumental yang ditampilkan oleh Equator Art Project, termasuk karya seniman internasional berbasis Yogyakarta, Nyoman Masriadi. Karya tersebut menjadi salah satu ikon yang dipamerkan di area luar pameran.

Nilu menjelaskan, Chapter Jogja berbeda dengan festival seni seperti ArtJog. Sebagai sebuah art fair, Chapter tidak mengusung tema besar yang harus direspons oleh para seniman.

“Kalau festival seperti ArtJog, karya-karya seniman merespons tema tertentu. Sedangkan art fair fokus pada galeri dan seniman yang mereka representasikan. Jadi yang ditampilkan adalah karya-karya terbaik dan terbaru dari para seniman tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, format art fair masih tergolong baru bagi sebagian masyarakat Yogyakarta karena selama ini model pameran semacam itu lebih banyak ditemukan di kota-kota seperti Jakarta dan Bali. Karena itu, Chapter Jogja diharapkan dapat memperkuat ekosistem pasar seni rupa di Yogyakarta.

Selama penyelenggaraan, jumlah pengunjung disebut mencapai lebih dari 500 orang per hari. Kehadiran kolektor yang berkunjung juga dinilai cukup positif dan mampu membantu galeri menemukan kolektor-kolektor baru.

“Target yang kami bayangkan kurang lebih sudah tercapai. Hampir setiap galeri menemukan kolektor baru selama penyelenggaraan Chapter ini,” ungkapnya.

Ia menegaskan, keberhasilan sebuah art fair tidak hanya diukur dari jumlah karya yang terjual, tetapi juga dari kontribusinya terhadap keberlanjutan ekosistem seni rupa.

“Harapannya bukan hanya karya terjual, tetapi juga muncul peluang bagi seniman-seniman yang belum dikenal pasar agar bisa dilirik galeri. Dengan begitu akan ada regenerasi dan penyegaran dalam ekosistem seni rupa,” katanya.

Melalui penyelenggaraan edisi kedua ini, Chapter Jogja diharapkan semakin memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat perkembangan seni rupa Indonesia sekaligus memperluas jaringan antara seniman, galeri, kolektor, dan masyarakat pecinta seni. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|