Oleh: Nanang Sumanang, Pemerhati Budaya dan Keislaman
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Berolahraga sore hari dengan berjalan santai menyusuri Jalan Kalimulya–Pasar Pucung, Depok, sambil ngabuburit menunggu azan Magrib di bulan Ramadhan terasa sangat menyenangkan.
Di sepanjang jalan, berjejer para pedagang yang menjajakan makanan untuk takjil, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Aneka kue basah dan kue kering tersedia, begitu juga berbagai macam kolak dan minuman es. Ada pula makanan berat seperti ayam geprek, bebek goreng, hingga masakan Padang yang menggoda selera.
Yang menarik, hampir semua pedagang di sepanjang jalan itu menawarkan lontong dan gorengan.
Lontong yang dijajakan biasanya berisi oncom atau sayuran seperti wortel dan kentang. Sementara gorengan yang tersedia antara lain tempe mendoan, tahu isi, bakwan, pisang goreng, serta risoles berisi bihun dan sayuran.
Sepertinya kurang afdal bagi sebagian warga Kalimulya, atau mungkin warga Depok pada umumnya, jika berbuka puasa tanpa lontong dan gorengan dalam daftar menu iftar mereka.
Iseng-iseng, penulis mencoba mengamati menu buka puasa beberapa teman dan kerabat yang tinggal di Depok. Ada yang berbuka dengan air putih, ada juga yang meminum minuman es, bahkan ada yang memulai dengan kopi panas.
Setelah membatalkan puasa, mereka biasanya langsung memakan lontong yang dipotong-potong dan disiram sambal kacang encer, lalu dipadukan dengan gorengan. Ritual buka puasa ini sering dilanjutkan dengan menyeruput kopi, bahkan menghisap rokok bagi yang merokok. Biasanya mereka baru makan besar sebelum berangkat atau setelah pulang dari salat Tarawih di masjid.
Dari pengamatan beberapa hari, secara umum warga Depok cukup fanatik dengan Kopi Liong Bulan, produk kopi lokal dari Bogor yang sudah ada sejak tahun 1945. Boleh dibilang, kopi ini menjadi pilihan utama di antara berbagai merek kopi lainnya.
Suatu sore di alun-alun Kota Depok, penulis bertemu seorang bapak muda yang sedang menemani anaknya bermain. Ia kini tinggal di Bogor, tetapi berasal dari Depok dan sedang berkunjung ke rumah orang tuanya.
“Saya asli Depok. Kakek, nenek, dan orang tua saya juga asli Depok. Kayaknya kebiasaan buka puasa pakai lontong dan gorengan sudah ada sejak saya kecil, bahkan mungkin sejak saya belum lahir,” ujarnya sambil tertawa ketika ditanya tentang tradisi tersebut.
“Rasanya kurang afdal kalau buka puasa tanpa lontong dan gorengan. Apalagi kalau ditambah minum kopi Liong, sudah tidak ada tandingannya,” katanya lagi sebelum berpamitan karena hari semakin sore.
Bagi penulis yang lahir dan tumbuh di Cawang Kapling, lalu pindah ke Perumnas Klender sekitar tahun 1978, tradisi berbuka puasa dengan lontong dan gorengan tidak terlalu sering dijumpai. Biasanya orang berbuka dengan minuman manis seperti es buah, es timun suri, kolak, atau kolang-kaling yang dicampur es.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
1
















































