Harianjogja.com, JOGJA—Dari toko mebel keluarga di Temanggung, Nizar Bawazier membangun Importa Furniture dengan mengandalkan kepercayaan. Kini, jaringan mitranya tersebar dari Aceh hingga Ambon.
Perjalanan Nizar Bawazier membangun Importa Furniture tidak berawal dari modal besar maupun ekspansi besar-besaran. Setelah lulus SMA pada 2003, Nizar memilih bekerja dengan memanfaatkan toko mebel 8x10 meter milik keluarganya di Temanggung.
Enam bulan kemudian, ia memutuskan mencoba memproduksi sofa dengan modal pinjaman Rp15 juta dari kakaknya. Bisnis tersebut kemudian berkembang. Dalam Podcast Harian Jogja bertajuk Beyond The Title, CEO dan Founder Importa Furniture Nizar Bawazier menceritakan perjalanan bisnisnya.
Ketika memulai usaha pada 2003, apakah Nizar benar-benar nekat atau sudah punya perhitungan?
Sebenarnya tidak nekat. Perjalanan bisnis saya sampai sebesar sekarang itu tangganya saya lewati satu per satu. Saya orangnya ambisius, tetapi tetap terukur.
Setiap melangkah saya selalu memahami kapasitas diri. Kalau kapasitas saya baru 50, saya tidak akan mengambil langkah 100. Dari 2003 sampai sekarang, alhamdulillah tidak pernah mengalami turbulence yang berarti karena setiap persoalan masih bisa dimitigasi.
Waktu itu ibu punya toko lama yang ukurannya sekitar 8x10 meter. Karena ibu membangun toko yang lebih besar, toko lama itu tidak terlalu terurus.
Ibu kemudian memberi pilihan, mau kuliah atau bekerja. Saya bilang ingin kaya. Ibu menjawab, kalau ingin kaya, bekerja saja. Akhirnya saya diberi kesempatan menggunakan toko tersebut.
Saat itu saya tidak punya modal. Saya hanya mengandalkan kepercayaan dari supplier kasur, partikel dan bahan lainnya. Barang bisa dititipkan dengan sistem pembayaran tempo sekitar dua bulan.
Lalu bagaimana ceritanya mulai memproduksi sofa?
Setelah enam bulan berjualan di toko, saya merasa pertumbuhannya terlalu lambat. Saya berpikir, kalau hanya seperti ini, saya tidak akan sukses.
Saya kemudian tertarik membuat sofa, tetapi tidak punya modal. Saya meminjam Rp15 juta dari kakak. Uang itu digunakan untuk menyewa rumah tua yang dijadikan tempat produksi sekitar Rp2 juta per tahun, sedangkan sisanya untuk membeli kayu dan menggaji tukang.
Bahan seperti busa masih bisa diperoleh dari supplier dengan sistem tempo. Tetapi rangka kayu harus dibayar tunai. Jadi modal utama digunakan untuk kayu dan biaya tenaga kerja.
Apa yang kemudian membuat bisnis berkembang lebih besar?
Salah satu titik pentingnya ketika masuk Solo Square sekitar 2004 atau 2005. Saat itu mal masih relatif sepi dan saya mendapat lahan lebih dari 1.000 meter dengan sistem konsinyasi.
Di sana kami tidak hanya menjual sofa, tetapi juga meja makan, kamar set, meja TV, meja hias dan berbagai perlengkapan rumah. Dari Solo Square itu saya mendapat modal yang cukup besar untuk mengembangkan usaha.
Bagaimana Nizar menemukan peluang furniture berbahan besi?
Saya lahir dari keluarga mebel sehingga sejak kecil cukup memahami kebutuhan konsumen. Ketika ikut menjaga toko dan mengantar barang ke berbagai daerah di Temanggung, saya mendengar langsung keluhan konsumen soal lemari yang berjamur, dimakan rayap atau bahan partikel yang tidak awet.
Saya melihat masyarakat membutuhkan produk yang bagus dan fungsional, tetapi harganya tetap terjangkau. Dari situ muncul gagasan membuat furniture berbahan besi yang tahan rayap dan jamur dengan harga yang tetap affordable.
Saya coba trial dan alhamdulillah sekarang mulai merasakan hasilnya. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan bisnis secara nilai menjadi fase terbesar karena transformasi furniture rumahan dari partikel, plastik dan kayu menuju besi.
Mengapa sampai belajar langsung ke Tiongkok?
Saya melihat industri furniture China berkembang sangat pesat. Kalau ingin belajar mengenai industri, saya merasa harus datang langsung ke sana.
Pertama kali saya mengunjungi China International Furniture Fair atau CIFF di Guangzhou pada 2008. Saya melihat mereka bekerja sangat efisien, produktivitasnya tinggi dan mengandalkan skala ekonomi.
Sebelumnya produksi sofa saya masih home industry dan belum berbasis mesin. Ketika pesanan banyak, kapasitas produksi menjadi terbatas. Dari China saya mendapat inspirasi bahwa produksi harus lebih efisien dan mampu menggunakan skala ekonomi.
Bagaimana akhirnya bisa membangun jaringan hingga akhirnya punya sekitar 7.000 mitra?
Awalnya saya ingin membuka toko sendiri di banyak daerah. Tetapi saya sadar modal kerja terbatas. Kalau membuka toko sendiri, saya harus membayar sewa, gaji karyawan dan biaya operasional lainnya.
Saya melihat toko mebel di Indonesia jumlahnya puluhan ribu. Daripada membuka toko sendiri, lebih baik menggandeng mereka untuk tumbuh bersama.
Tugas kami menyediakan produk yang stylish, fungsional dan terjangkau, sedangkan mitra menjadi saluran penjualan. Model itu juga memungkinkan kami ikut menggerakkan ekonomi daerah.
Untuk mendukung jaringan tersebut, kami membangun gudang distribusi di berbagai wilayah. Sekarang ada sekitar 30 titik distribusi Importa, dari Aceh hingga Ambon, yang memasok produk ke toko-toko mitra.
Apa modal utama untuk menjaga ribuan mitra tetap berjalan?
Integritas dan kepercayaan. Itu pesan yang sejak awal diberikan orang tua saya.
Dulu ketika saya masih memiliki toko kecil, supplier mungkin hanya memberikan credit limit Rp10 juta. Karena pembayaran selalu tepat waktu dan saya dipercaya, limit tersebut berkembang menjadi Rp50 juta, kemudian Rp100 juta.
Saya yang awalnya kecil bisa berkembang karena kepercayaan. Jadi salah satu bagian penting dari pertumbuhan bisnis saya adalah menjaga integritas.
Siapa yang paling memengaruhi sosok Nizar saat ini?
Circle kita sangat memengaruhi perubahan diri. Karena itu jangan sampai salah memilih teman. Kalau lingkungan kita mendorong pertumbuhan cara berpikir, kita juga akan ikut berkembang.
Saya memang tidak kuliah dan hanya lulusan SMA. Tetapi saya belajar melalui pengalaman, membaca, mengikuti seminar dan pelatihan, serta sekarang banyak belajar dari YouTube dan podcast.
Menurut saya CEO harus menjadi generalist. Tidak harus menjadi ahli di semua bidang, tetapi ketika diajak bicara soal keuangan, sales, marketing, human capital atau operasional, setidaknya memahami framework-nya sehingga tidak mudah dibohongi.
Apa pesan Nizar untuk anak muda yang ingin menjadi pengusaha?
Fokus di satu bidang dan jadilah yang paling jago di bidang tersebut. Anak muda sekarang kadang terlalu tidak sabar karena melihat konten tentang investasi dan keinginan cepat kaya.
Kalau pendapatan saja belum pasti, jangan terlalu sibuk memikirkan investasi. Tekuni satu bidang dari bawah, cari USP yang kuat, kembangkan dan jangan mudah bosan.
Orang-orang yang berhasil biasanya punya satu bidang yang dibangun sampai besar terlebih dahulu. Setelah kuat, barulah diversifikasi bisa dilakukan. Jangan satu usaha belum selesai, sudah ingin mencoba banyak hal sekaligus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































