DBD Masih Endemis, Dinkes Kota Jogja Tetap Fokus Pencegahan

2 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA—Tren penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Jogja belum membuat Dinkes mengendurkan kewaspadaan terhadap penyakit tular vektor. Sebab, Daerah Istimewa Yogyakarta masih tergolong wilayah endemis dengue.

Data Dinkes Kota Jogja mencatat terdapat 270 kasus DBD sepanjang 2025. Angka ini menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 301 kasus. Namun, penurunan tersebut dinilai belum signifikan sehingga kewaspadaan dan intervensi pencegahan tetap diperketat.

“Kasus DBD pada 2024 tercatat 301 kasus, sedangkan pada 2025 sebanyak 270 kasus. Jadi ada penurunan, meski angkanya masih mendekati tahun sebelumnya,” ujar Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja, Anandi Iedha Retnani, Selasa (27/1/2026).

Secara umum, kondisi penyakit tular vektor dan zoonosis (PTVZ) di Kota Jogja masih dinilai relatif terkendali. Tren kasus cenderung stabil, meskipun potensi peningkatan tetap ada mengingat karakter wilayah perkotaan yang padat penduduk.

DBD masih menjadi perhatian utama karena nyamuk Aedes aegypti sangat adaptif berkembang biak di lingkungan permukiman. Selain pemberantasan sarang nyamuk, Dinkes Kota Jogja juga menjalankan pendekatan biologis melalui pelepasan nyamuk ber-Wolbachia.

“Monitoring tahun 2024 menunjukkan sekitar 87,2 persen populasi nyamuk di Kota Yogyakarta sudah mengandung Wolbachia,” jelasnya.

Meski demikian, Anandi menegaskan intervensi Wolbachia tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan aktif masyarakat. Upaya utama pengendalian DBD tetap mengandalkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus yang dilakukan secara rutin minimal satu kali dalam sepekan.

Pendekatan berbasis masyarakat terus diperkuat melalui Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik. Setiap keluarga didorong untuk aktif memantau keberadaan jentik nyamuk di rumah masing-masing. Fogging hanya dilakukan sebagai langkah terakhir jika ditemukan kasus dan angka bebas jentik berada di bawah 95 persen, karena penyemprotan hanya efektif membunuh nyamuk dewasa.

Untuk penyakit zoonosis lainnya, Dinkes memastikan Kota Jogja bukan wilayah endemis rabies dan hingga kini tidak ditemukan kasus rabies pada manusia. Meski demikian, jumlah pasien gigitan hewan penular rabies tetap relatif tinggi karena Kota Jogja menjadi rujukan layanan kesehatan.

“Tidak semua gigitan perlu vaksin. Pertolongan pertama paling penting adalah mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 10–15 menit. Namun, layanan tetap kami berikan sesuai indikasi medis,” katanya.

Saat ini terdapat dua rabies center di Kota Jogja, yakni di RS Pratama dan Puskesmas Jetis. Layanan tersebut melayani pasien baik dari dalam maupun luar daerah.

Sementara itu, kasus malaria yang tercatat di fasilitas kesehatan Kota Jogja sebagian besar merupakan kasus impor dari wilayah endemis, terutama dari kawasan Indonesia Timur.

“Banyak pelajar, wisatawan, maupun pelaku perjalanan dinas dari wilayah endemis datang ke Yogyakarta. Saat berobat di sini, kasusnya tercatat di fasilitas kesehatan kota, meski penularannya terjadi di daerah asal,” jelas Anandi.

Dinkes Kota Jogja menekankan keberhasilan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis sangat bergantung pada konsistensi perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Genangan air di pot tanaman, barang bekas, talang air, hingga tempat minum hewan peliharaan masih kerap menjadi lokasi berkembang biaknya vektor penyakit.

Penguatan edukasi, pelibatan warga hingga tingkat RT dan RW, serta gerakan kolektif masyarakat terus didorong sebagai strategi utama untuk menjaga Kota Jogja tetap terkendali dari ancaman penyakit tular vektor dan zoonosis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|