Pasukan Houthi berbaris sambil memegang senjata api. (ANTARA - Anadolu)
Harianjogja.com, JAKARTA— Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, memperingatkan dunia kian bergerak ke arah yang lebih berbahaya seiring meningkatnya konflik bersenjata, pengabaian hukum internasional, serta makin seringnya serangan terhadap warga sipil.
Peringatan itu disampaikan Turk saat menyampaikan laporan di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Jumat (27/2/2026). Ia menyebut ancaman dan penggunaan kekerasan kini semakin sering dipakai untuk menyelesaikan perselisihan antarnegara maupun konflik internal.
“Ancaman dan penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan menjadi semakin sering dan dinormalisasi,” ujar Turk.
Menurut dia, jumlah konflik bersenjata di dunia hampir berlipat ganda sejak 2010 dan kini mencapai sekitar 60 konflik aktif. Kondisi ini membuat situasi global semakin rentan dan tidak stabil.
“Dunia benar-benar menjadi tempat yang lebih berbahaya,” tegasnya.
Turk menilai warga sipil menjadi kelompok yang menanggung risiko paling besar. Ia menggambarkan wilayah konflik sebagai “gurun hak asasi manusia”, tempat prinsip perlindungan sipil kerap diabaikan. Ia juga mengingatkan bahaya kembalinya kekerasan sebagai cara yang dianggap sah dalam hubungan internasional.
Dalam laporannya, Turk menyoroti sejumlah krisis besar, mulai dari Sudan, Ukraina, hingga wilayah Palestina yang diduduki Israel serta Myanmar. Konflik-konflik tersebut, menurutnya, memperlihatkan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, termasuk serangan terhadap infrastruktur sipil, konvoi kemanusiaan, dan penduduk non-kombatan.
“Serangan terhadap warga sipil meningkat hampir sepertiga,” katanya, seraya mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kejahatan berat hanya akan memicu pertumpahan darah yang lebih luas.
Selain itu, Turk menyoroti kecenderungan sejumlah pemimpin dunia yang justru melemahkan lembaga-lembaga internasional yang dibentuk untuk menjaga hukum dan akuntabilitas global. Ia menyebut serangan terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Mahkamah Internasional dan Mahkamah Pidana Internasional, sebagai sinyal yang mengkhawatirkan.
“Alih-alih memperkuat, sebagian justru menyerang lembaga yang dirancang untuk menjaga keamanan bersama,” ujarnya.
Meski menggambarkan situasi global yang suram, Turk menegaskan bahwa hak asasi manusia tetap menjadi fondasi utama stabilitas dunia dan kepercayaan publik.
“Singkatnya, orang-orang sangat menginginkan hak asasi manusia mereka,” katanya.
Ia pun mendesak negara-negara untuk kembali berkomitmen pada hukum internasional, akuntabilitas, serta kerja sama global demi mencegah konflik yang lebih luas dan melindungi warga sipil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara


















































