Dibekap Isu Keracunan dan Korupsi Dorong Ponpes-Ponpes di Jateng Tolak MBG

4 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sejumlah pondok pesantren (ponpes) di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) memutuskan menolak penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) ke tempat mereka. Kekhawatiran atas terjadinya serangkaian kasus keracunan, termasuk praktik korupsi dalam pelaksanaannya, menjadi alasan mengapa mereka mengambil keputusan tersebut.

Ponpes Tahfidzul Qur’an Istiqomah di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, memutuskan tidak lagi menerima penyaluran MBG. Ponpes tersebut berada di bawah naungan Yayasan Istiqomah Aljamzury. Yayasan Istiqomah juga memiliki madrasah ibtidaiah (MI) yang turut menyetop penerimaan MBG. 

Pengurus Ponpes Tahfidzul Qur’an Istiqomah, Maulana, mengungkapkan, pihaknya mengambil keputusan untuk tidak lagi menerima MBG pada Sabtu (12/9/2026). “Ini untuk mengantisipasi, waspada. Apalagi belum lama ini terjadi kasus yang tidak diinginkan di Selo. Akhirnya pihak yayasan mengumumkan tidak menerima MBG, mencakup pondok dan madrasah ibtidaiah,” kata Maulana ketika diwawancara, Sabtu (19/9/2026). 

Kasus di Selo yang disinggung Maulana adalah kasus dugaan keracunan MBG di SMPN 1 dan SMPN 2 Selo, Boyolali, pada 10 September 2026. Terdapat puluhan siswa yang mengalami gejala keracunan dalam kasus tersebut. 

Menurut Maulana, jumlah santri di ponpes dan MI di bawah Yayasan Istiqomah Aljamzury mencapai ratusan. Khusus Ponpes Tahfidzul Qur’an Istiqomah, jumlah santri mencapai 150-an orang. “Untuk jumlah yang di MI saya kurang tahu, bisa sama atau lebih sedikit, tapi ratusan juga,” ucapnya.

Dia menjelaskan, para orang tua dan wali santri telah mengetahui keputusan yayasan soal pemberhentian penerimaan MBG. Menurut Maulana, sebagian besar dari mereka tidak menentang keputusan yayasan. 

“Sementara ini masih ada tujuh wali santri yang menghendaki anaknya tetap mendapat MBG,” katanya. 

Maulana mengungkapkan, para santri Ponpes Tahfidzul Qur’an Istiqomah bersekolah di setidaknya empat sekolah. Jenjangnya mulai dari MI, madrasah sanawiah (MTs), dan madrasah aliah (MA). Menurut Maulana, pihaknya akan mengunjungi tiap-tiap sekolah untuk memberitahukan santri mereka sudah tidak lagi menerima MBG. 

“Hari Minggu (13/9/2026) malam juga sudah diumumkan bahwa pihak yayasan sudah tidak menerima MBG lagi. Kalau nanti tetap menerima, risiko ditanggung sendiri. Itu sudah kami sampaikan kepada seluruh santri,” ucap Maulana. 

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|