DIY Kembangkan Sistem Teknologi Simetris Berbasis AI-IoT Cegah Maraknya Keracunan Makanan

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Maraknya kasus keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah di Indonesia menuai keprihatinan dari berbagai pihak. Di Yogyakarta, sebuah terobosan besar dalam menjaga kedaulatan pangan dan keamanan konsumsi masyarakat kini muncul untuk mengantisipasi hal tersebut. Melalui sistem Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi Ketahanan Pangan Strategis (Simetris), sebuah sistem berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), membuat alur distribusi pangan kini dipantau secara ketat,dimulai dari cangkul petani hingga ke piring siswa dalam program MBG>

​Sistem ini tidak hanya sekadar dasbor data, tetapi berfungsi sebagai 'pusat kendali' yang mengintegrasikan peran ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) di Lumbung Mataraman dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut Fajar Saptono selaku IT Development Simetris, selama ini pencatatan stok pangan seringkali dilakukan secara manual dan terpisah-pisah. Dengan Simetris, data mengenai stok di tingkat kalurahan, jenis komoditas, hingga hasil panen pekarangan warga kini terdigitalisasi secara real-time. KWT berperan sebagai produsen data primer.

"Ibu-ibu tani di Yogyakarta kini tidak hanya mencangkul, tetapi juga menginput data produksi seperti cabai, sayuran, dan telur langsung ke sistem. KWT mengubah status ibu rumah tangga dari sekadar konsumen menjadi produsen sekaligus penjaga data pangan daerah," jelas Fajar.

​Satu hal yang mencuri perhatian adalah penerapan teknologi QR Code atau Barcode pada kemasan bahan pangan. Teknologi ini memberikan jaminan traceability atau ketertelusuran. Setiap sayur atau telur yang dipanen dari Lumbung Mataraman akan ditempeli stiker QR Code sebelum dikirim ke Dapur MBG.

"Saat di-scan, petugas dapat mengetahui asal KWT, lokasi lahan, tanggal panen, hingga masa kedaluwarsa bahan tersebut," jelas Fajar.

​Alur distribusi pangan dalam program ini dirancang sangat ringkas untuk menjaga kualitas meliputi Tahap Produksi (Hilir), yakni KWT di bawah Lumbung Mataraman memanen hasil bumi dan menginputnya ke Simetris sebagai "Stok Siap Jual".

Selanjutnya Tahap Konsolidasi dimana pengelola SPPG mengecek dasbor untuk mencari penyuplai terdekat di radius satu wilayah (Kapanewon) guna memotong rantai tengkulak. Berlanjut ke tahap distribusi, yakni bahan pangan dikirim langsung dari KWT ke dapur. Karena jarak pendek, kesegaran nutrisi terjaga maksimal dan biaya logistik rendah.

Kemudian tahap pengolahan yakni dapur menyusun menu berdasarkan bahan yang tersedia di Simetris. Proses memasak dipantau CCTV berbasis AI untuk menjamin higienitas.

Terakhir adalah Tahap Monitoring dimaja transaksi dan distribusi akhir ke siswa dicatat secara digital untuk akuntabilitas anggaran dan pembayaran tunai bagi petani.

​Keamanan pangan menjadi prioritas utama. Simetris dibekali dengan Early Warning System (EWS) yang memantau keamanan pangan secara berlapis. Jika ditemukan satu batch produksi yang bermasalah, sistem akan langsung mengidentifikasi lokasi persebaran makanan tersebut untuk ditarik secara real-time.

"Selain itu, setiap unit pelayanan wajib menerapkan standar HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point). Hal ini memastikan suhu masak daging mencapai batas kritis di atas 75 derajat Celcius untuk membunuh bakteri berbahaya seperti Salmonella atau E coli," terang Fajar.

Petani Punk Gunungkidul, SiBagz yang menyambut baik hadirnya Dapur MBG yang menggandeng para petani di Gunungkidul. Menurutnya, program ini menjadi angin segar bagi para petani muda yang selama ini sering mengalami kendala dalam pemasaran hasil panen.

Ia berharap program ini menjadi momentum regenerasi petani, mengingat pentingnya peran petani muda dalam menjaga ketahanan pangan hingga 20 tahun ke depan.

"Selama ini hasil petanian sayur di Gunungkidul luar biasa, namun terkadang bingung untuk pemasaran dan harus bergantung pada pengepul. Dengan adanya Dapur MBG, kami berharap petani lokal temasuk potensi petani milenial atau Gen Z, bisa langsung menyuplai kebutuhan bahan pangan tanpa melalui rantai distribusi yang panjang," ujar SiBagz.

Sementara, RM Wahyono Bimarso dari Yayasan Biijana Paksi Sitengsu mengatakan melalui koordinasi intensif antara Yayasan Biijana Paksi Sitengsu dengan Badan Gizi Nasional (BGN), integrasi pasokan pangan lokal kini memasuki tahap pematangan untuk mendukung penuh program MBG.

​Di wilayah seperti Gunungkidul, kata RM Wahyono, sistem ini menggandeng komunitas lokal seperti Petani Punk untuk menyuplai bahan baku. Dengan SIMETRIS, pemerintah bertindak sebagai pembeli resmi (offtaker).

Hasilnya, petani mendapatkan kepastian pasar dengan harga yang adil, sementara anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi terbaik dari tanah mereka sendiri.

"Melalui integrasi ini, program Makan Bergizi Gratis di DIY bukan hanya soal memberi makan, tetapi membangun ekosistem ekonomi desa yang tangguh, sehat, dan transparan dari hulu ke hilir," katanya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|