Gaji Baru Masuk Sudah Menipis? Ini 5 Penyebabnya

4 hours ago 2

Jumali

Jumali Kamis, 28 Mei 2026 19:47 WIB

Gaji Baru Masuk Sudah Menipis? Ini 5 Penyebabnya

Foto ilustrasi. /Ist-Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Tekanan ekonomi pada 2026 membuat banyak masyarakat harus lebih ketat mengatur pengeluaran. Pelemahan rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, tarif listrik, transportasi, hingga tagihan rumah tangga membuat kondisi finansial keluarga semakin rentan.

Namun penyebab uang cepat habis sering kali bukan berasal dari pengeluaran besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari justru diam-diam menjadi sumber kebocoran finansial paling besar.

Dilansir dari New Trader U, pakar keuangan Steve Burns menyebut kesadaran finansial sederhana dapat membantu masyarakat bertahan di tengah kenaikan biaya hidup. Pola konsumsi modern yang serba praktis memang memudahkan aktivitas, tetapi juga membuat pengeluaran menjadi lebih sulit dikontrol.

Berikut lima kebiasaan kecil yang sering membuat kondisi keuangan cepat memburuk.

1. Terlalu Sering Pesan Makanan Online

Layanan pesan makanan online memang praktis, tetapi biaya tambahan seperti ongkos kirim, biaya layanan, dan markup harga makanan membuat pengeluaran membengkak tanpa terasa.

Jika dilakukan berkali-kali dalam seminggu, total pengeluaran makanan online bisa setara dengan belanja kebutuhan dapur beberapa hari.

Solusinya, mulai biasakan memasak sederhana di rumah. Tidak perlu menu rumit, yang penting lebih hemat dan sehat.

2. Langganan Digital yang Tidak Dipakai

Banyak orang lupa bahwa layanan streaming, penyimpanan cloud, musik, aplikasi olahraga, hingga platform meeting semuanya memotong saldo secara otomatis setiap bulan.

Biaya kecil Rp50 ribu hingga Rp100 ribu terlihat ringan, tetapi jika jumlah langganan terlalu banyak, totalnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah setiap bulan.

Coba luangkan waktu memeriksa mutasi rekening dan hentikan layanan yang sudah jarang digunakan.

3. Belanja Impulsif karena Media Sosial

Iklan di media sosial kini sangat agresif dan disesuaikan dengan minat pengguna. Akibatnya, banyak orang membeli barang hanya karena tergoda promo atau tren viral.

Fenomena retail therapy membuat seseorang merasa lebih senang sesaat setelah belanja, meski barang tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Untuk mengurangi kebiasaan ini, terapkan aturan menunggu 24 jam sebelum membeli barang non-prioritas.

4. Terlalu Cepat Ganti Gadget

Perusahaan teknologi terus merilis produk baru setiap tahun sehingga banyak orang merasa harus selalu upgrade ponsel atau laptop.

Padahal, perangkat berusia dua hingga tiga tahun umumnya masih cukup memadai untuk kebutuhan sehari-hari.

Masalah terbesar muncul ketika pembelian gadget dilakukan dengan cicilan yang justru menambah beban pengeluaran tetap setiap bulan.

Menunda upgrade gadget satu atau dua tahun lebih lama bisa menghemat jutaan rupiah.

5. Cicilan Digital dan PayLater

Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) kini semakin populer karena menawarkan cicilan ringan dan proses cepat.

Namun ketika cicilan berasal dari banyak aplikasi sekaligus, tagihan bulanan bisa menjadi sulit dikendalikan.

Penggunaan PayLater yang tidak disiplin berisiko memicu denda, bunga tambahan, hingga jebakan utang konsumtif.

Gunakan cicilan digital hanya untuk kebutuhan penting dan pastikan total cicilan tidak melebihi 20 persen pendapatan bulanan.

Kebiasaan Kecil Bisa Berdampak Besar

Di era transaksi digital yang serba instan, pengeluaran kecil sering terasa tidak signifikan. Padahal jika dikumpulkan, nilainya bisa sangat besar dalam jangka panjang.

Membatasi pesan makanan online, menghentikan langganan tidak penting, menunda pembelian gadget, hingga lebih disiplin menggunakan cicilan dapat membantu menjaga kondisi finansial tetap sehat.

Mulailah mencatat pengeluaran harian dan membuat anggaran sederhana agar kondisi keuangan keluarga lebih stabil di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|