Para pengunjuk rasa berbaris di pusat kota Teheran, Iran, Senin, 29 Desember 2025.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa protes yang melanda negara itu sejak akhir Desember lalu merupakan bagian dari apa yang mereka sebut sebagai fitnah terorganisasi.
Fitnah tersebut melibatkan badan intelijen dari 10 negara musuh, yang mereka tuduh berusaha mengganggu stabilitas internal melalui tindakan kekerasan, perusakan, dan kampanye disinformasi yang terkoordinasi.
Dalam pernyataan ketiganya sejak pecahnya protes, Garda Revolusi berbicara tentang tindakan tegas dan terarah oleh apa yang disebutnya tentara Imam Mahdi yang tidak dikenal.
Ini merujuk pada badan keamanan dan intelijen, terhadap apa yang digambarkannya sebagai elemen musuh dan jaringan yang terkait dengannya.
Menurut pernyataan yang dirilis Jumat (23/1/2026) ini, dikutip Aljazeera, Sabtu (24/1/2026), tindakan tersebut mencakup penangkapan dan pemanggilan 735 orang yang terkait dengan jaringan-jaringan yang memusuhi keamanan.
Selain itu juga pemanggilan dan pembinaan terhadap sekitar 11 ribu orang yang rentan dan mudah dimanfaatkan dalam rangka apa yang disebut Garda sebagai upaya untuk memperkuat masyarakat dan mencegah tergelincirnya masyarakat ke dalam kekacauan.
Pernyataan tersebut mengumumkan penyitaan 743 senjata perang dan senjata berburu tanpa izin, yang menurut Garda merupakan indikasi sifat bersenjata dari beberapa gerakan.
Pernyataan itu juga menyebutkan identitas 46 orang yang disebut sebagai anggota jaringan yang bekerja sama dengan badan intelijen asing. "Operasi mereka dan peran mereka telah terungkap," tanpa memberikan rincian tambahan tentang sifat jaringan ini atau negara-negara yang dituduh berada di baliknya.

1 month ago
36

















































