Gempa Susulan M 4,4 di Sigi, BMKG Catat 1.374 Kali Getaran Pasca M 6,7

5 hours ago 3

Gempa Susulan M 4,4 di Sigi, BMKG Catat 1.374 Kali Getaran Pasca M 6,7

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, PALU—Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 kembali mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Rabu (24/6/2026) pukul 17.00 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa tersebut merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan pascagempa utama magnitudo 6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, menjelaskan hasil analisis BMKG menunjukkan pusat gempa berada di darat, sekitar 39 kilometer di timur laut Kabupaten Sigi dengan kedalaman 7 kilometer.

“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter dengan magnitudo 4,4, berlokasi di darat pada jarak 39 kilometer timur laut Sigi, Sulawesi Tengah, pada kedalaman 7 kilometer,” kata Cipto di Palu, Rabu.

Menurutnya, gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang dipicu aktivitas Sesar Palolo. Berdasarkan hasil analisis dan laporan masyarakat, getaran dirasakan di wilayah Kabupaten Sigi maupun Kota Palu.

“Gempa bumi ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Palolo,” ujarnya.

Hingga Rabu petang, BMKG belum menerima laporan adanya kerusakan bangunan maupun korban akibat gempa magnitudo 4,4 tersebut. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Cipto menjelaskan gempa yang terjadi sore hari itu masih berkaitan dengan aktivitas seismik setelah gempa utama magnitudo 6,7 yang mengguncang Sigi pada 16 Juni lalu. Aktivitas kegempaan di wilayah tersebut masih terus terpantau oleh BMKG.

“Gempa bumi ini merupakan rangkaian susulan dari gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6,7 di Sigi pada tanggal 16 Juni 2026,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, hingga saat ini telah tercatat sebanyak 1.374 gempa susulan sejak terjadinya gempa utama. Dari seluruh rangkaian gempa susulan tersebut, kekuatan terbesar yang terdeteksi mencapai magnitudo 5,3. Aktivitas gempa susulan di Sigi ini terus dipantau sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko bencana di wilayah Sulawesi Tengah.

Gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, namun dampaknya bisa kita minimalkan melalui kesiapsiagaan yang matang. Mulai saat ini, mari bangun budaya sadar bencana dari lingkup terkecil dengan memastikan penataan perabotan di rumah aman dari risiko roboh, memahami jalur evakuasi terdekat, serta selalu menyiapkan Tas Siaga Bencana yang berisi kebutuhan pokok darurat.

Saat guncangan terjadi, kunci utamanya adalah tetap tenang dan segera terapkan prinsip keselamatan dengan merunduk, berlindung di bawah meja yang kuat, serta bertahan hingga situasi mereda. Selalu lindungi kepala dari potensi reruntuhan, menjauhi material kaca, dan segera bergerak menuju titik kumpul di area terbuka begitu guncangan berhenti. Mari kita ubah kepanikan menjadi persiapan yang matang demi keselamatan jiwa diri sendiri dan orang-orang tercinta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|