IDAI: Rumor Negatif Vaksin di Media Sosial Picu Penurunan Imunisasi Anak

2 hours ago 1

Petugas kesehatan memeriksa seorang anak sebelum disuntik vaksin campak di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bekerja sama dengan Rumah Vaksinasi Pusat menyelenggarakan vaksinasi massal campak gratis bagi anak usia 9 hingga 59 bulan sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan anak Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, kasus campak pada anak menunjukkan peningkatan yang perlu menjadi perhatian bersama, terlebih menjelang libur panjang Hari Raya Idulfitri yang biasanya diiringi dengan tingginya mobilitas masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orang tua untuk segera melengkapi imunisasi campak (MR) pada anak yang masih sehat sebagai langkah perlindungan optimal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Piprim Basarah Yanuarso SpA SubspKardio(K) mengatakan rumor negatif mengenai imunisasi yang beredar di media sosial memengaruhi keputusan sebagian masyarakat untuk tidak memberikan vaksin kepada anak. Menurut Piprim, berbagai informasi yang tidak akurat di media sosial turut menimbulkan keraguan masyarakat terhadap imunisasi.

“Selain pengaruh pandemi, tetapi juga karena banyaknya informasi yang menimbulkan kegamangan. Apalagi sekarang media sosial sangat beragam, seperti Instagram, Threads, Twitter, hingga TikTok, yang ikut memengaruhi persepsi masyarakat,” kata Piprim, Kamis (12/3/2026).

Ia mengatakan kasus campak kembali meningkat di Indonesia hingga menimbulkan kematian pada anak. Hal ini terjadi karena cakupan vaksinasi di beberapa daerah masih rendah sehingga tidak terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Piprim menjelaskan sebelumnya kasus campak di Indonesia sempat menurun karena cakupan imunisasi yang cukup tinggi untuk melindungi anak balita. Namun, rumor di media sosial yang menimbulkan ketakutan terhadap vaksin membuat tingkat imunisasi kembali menurun dan memicu kemunculan wabah.

“Campak merupakan penyakit yang sangat menular. Begitu cakupan imunisasi terganggu, turun sekitar 20 persen saja, kejadian luar biasa sudah bisa terjadi. Apalagi jika ada kelompok masyarakat yang sama sekali menolak vaksinasi, itu menjadi sumber penyebaran virus,” ujar Piprim.

Piprim mengingatkan masyarakat agar lebih mewaspadai dampak penyakit campak dibandingkan ketakutan terhadap vaksin. Ia menegaskan campak dapat menimbulkan komplikasi serius yang berpotensi membahayakan nyawa anak.

Ia juga mengimbau orang tua untuk menjaga anak dari kerumunan menjelang libur Lebaran, terutama di tengah situasi kejadian luar biasa (KLB) campak. Anak juga sebaiknya tidak terlalu sering disentuh atau dicium oleh orang yang tidak dikenal.

Untuk perlindungan tambahan, Piprim menyarankan orang tua segera melengkapi jadwal vaksinasi bagi bayi dan balita sebelum Lebaran, terutama sebelum bertemu banyak orang, sebagai upaya mencegah penularan penyakit menular.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|