REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti dampak realokasi anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap kinerja ekonomi. Salah satu kesimpulan kajian tersebut menyebutkan program MBG dinilai memberikan dampak positif terhadap ekonomi makro, namun capaiannya relatif kecil dan bersifat transisional.
Evaluasi mengenai MBG tersebut merupakan kajian terbaru Indef yang menggunakan model overlapping generation Indonesia (OG-IDN) yang disesuaikan dengan karakteristik Indonesia. Model tersebut menganalisis dampak berbagai kebijakan terhadap pertumbuhan ekonomi, tabungan, investasi, serta keberlanjutan fiskal antargenerasi. Model ini juga digunakan untuk evaluasi jangka panjang, mengingat program MBG digadang-gadang sebagai upaya menyiapkan generasi emas 2045.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurrahman menyampaikan program MBG merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menyedot anggaran cukup besar. Oleh karena itu, dampak realokasi anggaran untuk MBG terhadap kinerja ekonomi perlu dikaji secara mendalam.
Ia menjelaskan, program MBG diposisikan sebagai intervensi strategis nasional, bukan sekadar program bantuan konsumsi. MBG dirancang untuk menutup kesenjangan akses gizi pada kelompok rentan sekaligus mendukung pencapaian sasaran pembangunan gizi nasional sebagaimana dirumuskan dalam Rencana Strategis Badan Gizi Nasional (BGN) 2025—2029. Roadmap MBG dinilai penting karena berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
“Namun, urgensi program ini dibatasi oleh keterbatasan fiskal. Pemerintah melakukan realokasi anggaran karena MBG menjadi bagian dari program strategis nasional (PSN) dan quick win program. Program MBG pada 2025 menelan bujet cukup besar, terlebih pada tahun berikutnya anggarannya ditambah dan menjadi lebih besar lagi,” kata Rizal dalam diskusi Indef yang digelar secara daring, Kamis (8/1/2026).
Rizal menerangkan, Indef melakukan analisis pergerakan ekonomi makro jangka panjang melalui simulasi program MBG dengan sejumlah asumsi dalam model OG-IDN. Pertama, struktur anggaran MBG. Dalam nota keuangan APBN, 82 persen anggaran MBG berada pada subfungsi pendidikan dan 18 persen pada subfungsi kesehatan, yang menegaskan MBG sebagai belanja investasi SDM.
Kedua, APBN diasumsikan tetap netral terhadap defisit. Pendanaan MBG berasal dari realokasi antarpos belanja sehingga tidak menambah total belanja maupun defisit pemerintah. Dengan demikian, dampaknya lebih berupa perubahan komposisi belanja, bukan stimulus fiskal.
Ketiga, MBG diposisikan sebagai transfer in-kind bagi anak usia 0—18 tahun, yang secara ekonomi merupakan calon tenaga kerja atau SDM masa depan.
Keempat, kanal kesehatan. Perbaikan asupan gizi berpotensi menurunkan stunting dan meningkatkan kapasitas kognitif. Bukti empiris menunjukkan status gizi yang lebih baik berkorelasi positif dengan produktivitas dan pendapatan seumur hidup.
Kelima, kanal pendidikan. Dukungan gizi meningkatkan kehadiran, konsentrasi belajar, serta capaian pendidikan, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas modal manusia.
“Keenam, implikasi jangka panjang. Program MBG tidak berdampak signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam jangka pendek, tetapi berpotensi meningkatkan pertumbuhan potensial ketika kohort penerima memasuki pasar kerja dalam jangka panjang,” terangnya. Ketujuh, terdapat catatan risiko bahwa manfaat MBG sangat bergantung pada ketepatan sasaran, kualitas implementasi, dan integrasi lintas sektor.
Lebih lanjut, Rizal memaparkan hasil analisis dampak implementasi program MBG terhadap indikator makroekonomi, mulai dari produktivitas SDM, PDB, stok modal atau investasi, hingga konsumsi.
“Program MBG memiliki dampak positif dengan angka yang kecil, namun persisten terhadap agregat makro, terutama saat kohort penerima mulai memasuki usia produktif,” ungkapnya.
Dari sisi PDB, tercatat peningkatan moderat dengan puncak sekitar 0,15—0,17 persen pada awal 2040-an, lalu menurun bertahap dan berkonvergensi ke nol dalam jangka panjang.
“Hal ini mencerminkan bahwa program MBG meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang terbentuk secara gradual,” kata Rizal.
Adapun terhadap stok modal, data menunjukkan pola serupa dengan kenaikan awal sekitar 0,15 persen yang mendorong investasi pada fase awal, namun tidak bersifat permanen dan akhirnya kembali ke lintasan keseimbangan jangka panjang.
Sementara itu, konsumsi menunjukkan pola paling persisten, dengan kenaikan awal sekitar 0,15 persen dan tetap positif sekitar 0,04—0,05 persen dalam jangka panjang. Hal ini menegaskan bahwa manfaat utama MBG lebih tercermin pada peningkatan kesejahteraan antargenerasi dibandingkan ekspansi output atau faktor produksi secara permanen.
“Dengan kata lain, program MBG memberikan dampak positif, terutama dalam menstimulasi investasi, tetapi tidak bersifat permanen. Namun, dalam konteks konsumsi, program ini cukup mendorong kesejahteraan antargenerasi,” jelasnya.

15 hours ago
2

















































