Jakarta, CNBC Indonesia - Bermain game secara berlebihan ternyata kerap ditemui di kalangan anak usia sekolah. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat adiksi game pada siswa SMA mencapai lebih dari 30% pada anak SMA.
"Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa siswa SMA di Indonesia sekitar 33 persen hingga 39 persen dalam sampel tertentu masuk dalam kategori kecanduan tingkat sedang hingga berat. Jadi sedang sampai beratnya saja lebih dari 30 persen atau tepatnya 33 persen," kata Menteri Komdigi Meutya Hafid, dikutip dari CNN Indonesia, Senin (2/3/2026).
Dia juga menyoroti adiksi game pada tingkat dunia mencapai 1,96% hingga 3% populasi dunia. Risiko tertingginya berada pada remaja laki-laki dan kelompok dewasa muda.
Meutya tak menampik game membantu manusia menjadi kreatif dan pihaknya akan terus mendukung industri tersebut. Namun di sisi lain, terdapat sejumlah dampak negatif termasuk adiksi.
Dalam kesempatan itu, Komdigi meluncurkan layanan multiplatform yang diberi nama DARA. Platform itu untuk mengakomodir permasalahan adiksi game.
Menurut Meutya, DARA hadir dari kegelisahan masyarakat khususnya orang tua yang sulit menghadapi perubahan perilaku anak-anaknya yang bermain game online secara berlebihan.
DARA disiapkan menjadi teman bercerita dan konsultasi secara privat. Jadi anak-anak Indonesia bisa mencari pertolongan adiksi pada game langsung di platform ini.
"Sehingga kita harapkan dengan layanan ini anak-anak bisa datang dengan sendirinya untuk mencari pertolongan atau bantuan terhadap adiksi mereka terhadap games. Sekali lagi, kita tidak ingin menutup games-nya, karena tadi banyak yang kreatif, tapi kita ingin mereka yang kemudian terpapar hal-hal negatif bisa dibantu dan negara harus hadir di situ," tuturnya.
Layanan DARA dapat diakses melalui beberapa kanal. Mulai dari laman https://adiksi.igrs.id/ atau melalui WhatsApp Indonesia Game Rating System (IGRS) dengan nomor 0811806860.
Kecanduan HP
Dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, Indonesia ternyata punya keunggulan pada bagian tertentu. Yakni urusan kecanduan pada layar HP, negara ini menjadi raja di kawasan dan mengalahkan tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Bahkan di skala global, Indonesia berada di posisi kedua. Indonesia hanya dikalahkan oleh India yang memimpin daftar laporan firma riset Sensor Tower.
Dari laporan tersebut terungkap masyarakat Indonesia menghabiskan 414 miliar jam menggunakan aplikasi yang ada di ponsel sepanjang 2025. Masyarakat paling banyak mengakses media sosial, dengan TikTok sebagai yang ternyata diakses.
Masyarakat Indonesia juga banyak yang mengakses aplikasi short drama, seperti Melolo yang pertumbuhan unduhnya naik hingga 329% tahun lalu. Selain itu, aplikasi utilitas, multimedia, perbankan dan dompet digital, pinjaman online, aplikasi streaming, OTT, pesan singkat, telekomunikasi dan e-commerce jadi beberapa aplikasi yang juga banyak dikunjungi masyarakat.
Sementara India melakukannya lebih banyak, sekitar 3 kali dari Indonesia mencapai 1,2 triliun jam di depan layar perangkat. Posisi ketiga diisi oleh Amerika Serikat sebanyak 385 jam di depan HP.
Untuk Asia Tenggara, Fillipina berada di peringkat ke-8. Sementara Vietnam di posisi ke-11 dan Thailand nomor ke-15.
Bahkan nama Malaysia, Myanmar, Brunei Darusaalam dan Laos tak masuk dalam daftar 20 besar. Artinya penduduk negara-negara tersebut tidak terlalu kecanduan dengan ponsel.
China yang dikenal sebagai kampung halaman banyak produsen aplikasi mobile ternyata masyarakatnya tidak terlalu candu bermain ponsel. Peringkat negara itu berada pada nomor 9 secara global dan waktunya 148 miliar.
Tips Mengatasi Kecanduan HP
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecanduan ponsel, dikutip dari laman Alodokter:
- Hindari menggunakan gadget saat berjalan atau berkendara. Karena kegiatan tersebut dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Jika memang harus menggunakannya, sebaiknya berhenti sejenak dari berjalan atau berkendara untuk membuka ponsel.
- Atur dan batasi waktu penggunaan gadget. Tentukan waktu maksimal untuk menggunakan ponsel.
- Sebagai catatan, jika pekerjaan mengharuskan menggunakan gadget dalam waktu lama, sebaiknya cari aktivitas lain yang tidak mengunakan ponsel setelah selesai bekerja.
- Jangan gunakan gadget saat sedang bersama orang lain. Lakukan komunikasi secara langsung saat bertemu dengan orang lain untuk fokus berbincang.
- Selain membatasi waktu, tentukan area bebas gadget. Anda harus melakukannya dengan komitmen meski itu aturan yang dibuat sendiri.
- Lakukan aktivitas yang lebih sehat pengganti penggunaan gadget. Mulai dari berolahraga atau membaca buku. Hindari pula bermain gadget ketika akan tidur.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































