Insiden Hubner Picu Kritik dan Isu Pelindung Kaki

6 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Aksi tekel keras Justin Hubner dalam laga Eredivisie memicu sorotan, bukan hanya soal keputusan wasit, tetapi juga keselamatan pemain di lapangan.

Insiden ini langsung menjadi perbincangan luas, terutama bagi penggemar sepak bola Indonesia yang mengikuti kiprah Hubner di Eropa.

Dalam pertandingan antara Fortuna Sittard melawan NAC Breda di Stadion Offermans Joosten, Minggu (12/4/2026), momen kontroversial terjadi pada menit ke-34.

Saat itu, Lewis Holtby lebih dulu menguasai bola di area penalti. Namun, Hubner yang datang terlambat justru menghantam tulang kering kiri Holtby dengan keras.

Benturan tersebut membuat Holtby langsung terkapar dengan luka berdarah. Situasi yang biasanya berujung pelanggaran atau penalti justru tidak dianggap sebagai pelanggaran oleh wasit.

Keputusan ini memicu tanda tanya besar, apalagi tayangan ulang memperlihatkan kontak yang cukup jelas dan berisiko.

Wasit hanya menghentikan pertandingan untuk memberi kesempatan tim medis masuk, sebelum akhirnya Holtby ditarik keluar dan digantikan oleh Mohammed Nassoh.

Di tengah kontroversi tersebut, Hubner menunjukkan sikap sportif. Ia langsung menyampaikan permintaan maaf kepada Holtby melalui pesan pribadi di media sosial.

"Saya tidak sengaja menyebabkan cedera itu. Saya harap Anda cepat pulih dan segera kembali," tulis Hubner.

Respons Holtby pun terbilang dewasa. Ia menganggap insiden tersebut sebagai bagian dari dinamika pertandingan.

"Jangan khawatir. Situasi seperti ini sering terjadi. Saya menghargai niat baik Anda," balas Holtby.

Namun, perdebatan tidak berhenti pada keputusan wasit. Insiden ini juga memicu diskusi lebih luas tentang penggunaan pelindung tulang kering atau shin guard di kalangan pemain modern.

Banyak pemain saat ini menggunakan pelindung berukuran kecil demi kenyamanan, tetapi dinilai meningkatkan risiko cedera serius.

Komentar warganet pun ramai menyoroti minimnya perlindungan pada kaki pemain, terutama setelah video insiden tersebut viral di media sosial.

Sebagian bahkan mendesak FIFA dan KNVB untuk menetapkan standar minimum pelindung demi keselamatan pemain.

Bagi pemain amatir, insiden ini menjadi pengingat penting bahwa perlindungan dasar seperti shin guard tidak boleh dianggap sepele.

Di sisi lain, nama Hubner sendiri sebelumnya sempat terseret polemik administrasi di Eredivisie terkait status pemain Uni Eropa. Namun, masalah tersebut telah diselesaikan dan ia kembali tampil bersama timnya.

Kini, sorotan terhadap Hubner bukan lagi soal administrasi, melainkan insiden di lapangan yang membuka diskusi lebih luas tentang keselamatan pemain dalam sepak bola modern.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|