Para pemuda yang kembali dari Spanyol berkumpul di perlintasan perbatasan Bab Sebta dekat Fnideq, Maroko, pada 31 Juli 2026. Kericuhan pecah saat ribuan orang berkumpul di dekat perbatasan; sebagian di antaranya berupaya menyeberang ke Ceuta dan terlibat bentrokan dengan aparat keamanan Maroko.
REPUBLIKA.CO.ID, MADRID — Belum lama setelah pemerintah Spanyol menetapkan status darurat di Kota Ceuta akibat lonjakan mendadak arus migran, pemerintah setempat menyatakan bahwa krisis tersebut dipicu oleh informasi menyesatkan yang disebarkan jaringan penyelundup manusia.
Mereka memanfaatkan putusan terbaru Mahkamah Agung Spanyol untuk meyakinkan para migran bahwa mereka dapat memasuki Ceuta dan menetap di wilayah Spanyol.
Namun, penelusuran terhadap konten yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa krisis ini tidak hanya dipenuhi rumor soal migrasi.
Seiring meningkatnya ketegangan di lapangan, krisis Ceuta berubah menjadi arena perang informasi yang dimanfaatkan sejumlah akun pro-Israel untuk mengarahkan perdebatan publik ke isu migrasi, keamanan, dan kebijakan Eropa.
Hal ini melalui pembesaran narasi, penyebaran video viral, serta pembingkaian ulang peristiwa dalam konteks politik yang provokatif.
Analisis terhadap aktivitas akun-akun tersebut menunjukkan bahwa perhatian mereka tidak semata-mata tertuju pada perkembangan krisis.
Sebaliknya, mereka memanfaatkan momentum yang tercipta akibat arus migran dan cepatnya penyebaran informasi di platform digital untuk memperkuat narasi tertentu yang berpotensi memicu perpecahan di Spanyol.
Krisis yang awalnya merupakan persoalan perbatasan itu pun berkembang menjadi medan kampanye pengaruh digital.

4 hours ago
5














































