Jangan Tergiur Konten Medsos, Jalur Pendakian Merapi Masih Ditutup

3 hours ago 2

Jumali

Jumali Senin, 29 Juni 2026 20:57 WIB

Jangan Tergiur Konten Medsos, Jalur Pendakian Merapi Masih Ditutup

Foto ilustrasi mendaki gunung, dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT

Harianjogja.com, SLEMAN—Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) kembali menegaskan bahwa seluruh jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi masih ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya sejumlah konten di media sosial yang memperlihatkan aktivitas pendakian dan mengesankan seolah jalur menuju puncak telah kembali dibuka.

Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, mengatakan penutupan pendakian masih diberlakukan karena aktivitas vulkanik Gunung Merapi tetap berada pada level yang perlu diwaspadai. Saat ini status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga sehingga aktivitas pendakian tidak direkomendasikan.

Menurut Heri, penutupan jalur pendakian telah berlangsung sejak 22 Mei 2018 ketika status aktivitas Merapi meningkat dari Normal menjadi Waspada. Selanjutnya, pada 5 November 2020, status gunung kembali dinaikkan menjadi Siaga dan hingga kini belum mengalami perubahan.

"Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana," ujar Heri dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 19-25 Juni 2026 dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas vulkanik masih tergolong tinggi dengan erupsi efusif yang terus berlangsung. Suplai magma ke permukaan masih terjadi sehingga potensi guguran lava maupun awan panas guguran masih tetap ada.

TNGM menjelaskan potensi bahaya saat ini berada di sektor selatan-barat daya meliputi alur Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimal hingga 5 kilometer dari puncak. Adapun pada alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng, potensi luncuran material vulkanik dapat mencapai hingga 7 kilometer dari puncak.

Sementara itu, di sektor tenggara, potensi bahaya berada di alur Sungai Woro dengan jarak luncur maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer dari puncak.

Selain ancaman awan panas dan guguran lava, BPPTKG juga memperkirakan lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Merapi.

Kondisi tersebut membuat jalur pendakian melalui New Selo masuk dalam kawasan rawan bencana. Jalur mulai dari pintu masuk, Pos I, Pos II, Pasar Bubrah hingga kawasan puncak berada dalam radius yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik.

TNGM mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi. Warga diminta mengikuti informasi dari BPPTKG maupun pemerintah daerah terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi.

"Masyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau langsung ke BPPTKG," kata Heri.

Meski pendakian ditutup, masyarakat masih dapat menikmati panorama Merapi melalui sejumlah destinasi wisata alam yang berada di luar zona bahaya. Salah satunya adalah Objek Wisata Alam (OWA) Kalitalang yang menawarkan pemandangan Gunung Merapi dari jarak aman.

TNGM menegaskan penutupan jalur pendakian dilakukan semata-mata untuk mematuhi rekomendasi instansi teknis yang berwenang sekaligus melindungi keselamatan masyarakat.

"Pendakian Gunung Merapi sampai dengan saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta untuk menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," ujar Heri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|