Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas. Kelompok perlawanan Lebanon itu mengklaim berhasil menghantam fasilitas komunikasi strategis Israel di wilayah Palestina yang diduduki menggunakan rudal presisi jarak jauh.
Hizbullah mengatakan serangan diarahkan ke stasiun komunikasi satelit milik Divisi Komunikasi dan Pertahanan Siber Israel di Lembah Elah, sekitar 160 kilometer dari perbatasan Lebanon.
Serangan itu disebut sebagai balasan atas operasi militer Israel yang sebelumnya menghantam puluhan kota di Lebanon, termasuk wilayah pinggiran selatan Beirut.
"Operasi ini dilakukan sebagai respons atas agresi kriminal Israel terhadap kota-kota dan desa-desa Lebanon, termasuk wilayah pinggiran selatan Beirut," kata pihak Hizbullah, dikutip dari PalestineChronicle, Rabu (11/3/2026).
Media Israel melaporkan sedikitnya dua lokasi sensitif terkena serangan. Militer Israel bahkan memberlakukan sensor informasi terhadap insiden tersebut.
Sejumlah laporan juga menyebut fasilitas strategis di dekat kota Beit Shemesh, sebelah barat Yerusalem yang diduduki, turut terkena dampak serangan.
Menurut laporan yang dikutip kantor berita Iran Tasnim, target serangan merupakan Stasiun Satelit SES atau Emek HaEla Teleport, salah satu pusat utama komunikasi satelit Israel.
Fasilitas ini disebut menerima data dari satelit militer dan intelijen Israel seperti Amos dan Dror. Data tersebut kemudian disalurkan melalui jaringan serat optik Bezek menuju pusat komando militer Israel.
Tasnim bahkan menyebut stasiun tersebut sebagai "jantung" sistem komunikasi satelit darat Israel.
Jika fasilitas itu benar-benar mengalami kerusakan serius, gangguan luas terhadap jaringan komunikasi Israel berpotensi terjadi.
Di saat bersamaan, laporan Al Jazeera menyebut Hizbullah juga meluncurkan rudal berat jarak jauh menuju wilayah Israel tengah.
Rudal tersebut dilaporkan menghantam Beit Shemesh dan kota Lod di selatan Tel Aviv setelah menempuh jarak hampir 200 kilometer dari wilayah Lebanon.
Yang mengejutkan, sistem pertahanan Israel dilaporkan tidak mampu mendeteksi rudal tersebut hingga detik-detik terakhir sebelum menghantam target.
Para analis menilai penggunaan rudal berat jarak jauh menandakan Hizbullah telah meningkatkan eskalasi konflik secara signifikan.
Kelompok itu diketahui memiliki sejumlah rudal jarak jauh seperti Fadi-3, Qader-1, Qader-2, hingga Nasser-2 dengan jangkauan sekitar 190 kilometer dan hulu ledak hingga 500 kilogram.
Selain menyerang wilayah Israel tengah, Hizbullah juga mengklaim melakukan serangkaian serangan di sepanjang perbatasan Lebanon.
Targetnya termasuk pasukan Israel di Wadi Hounin, kendaraan militer di dekat Markaba, hingga konsentrasi tentara Israel di wilayah Al-Baghdadi.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz menegaskan operasi militer terhadap Hizbullah akan terus berlanjut.
Militer Israel bahkan dilaporkan telah memasuki wilayah Lebanon untuk membentuk zona penyangga dengan kedalaman sekitar tujuh kilometer dari perbatasan.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































