Jean-Paul Van Gastel Belum Berencana Tambah Pelatih Asing di PSIM

44 minutes ago 3

Jean-Paul Van Gastel Belum Berencana Tambah Pelatih Asing di PSIM

Pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul Van Gastel saat ditemui usai sesi latihan di Mandala Krida, Senin (16/3/2026) sore. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA–Pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul Van Gastel, mulai menyusun fondasi tim untuk menghadapi musim kompetisi berikutnya setelah menuntaskan Super League 2025/2026.

Van Gastel memberi sinyal akan mempertahankan komposisi staf pelatih yang ada, termasuk staf lokal, di tengah keterbatasan anggaran klub.

Ia memastikan pelatih fisik asal Spanyol, Jorge Gomez Alba, tetap menjadi bagian dari tim pelatih PSIM musim depan.

Sementara untuk komposisi staf lainnya, Van Gastel mengindikasikan tidak akan banyak perubahan.

“Sepertinya bukan dari luar negeri karena tidak ada anggaran. Saya akan tetap di sini dengan pelatih fisik saya dari Spanyol. Jadi kemungkinan besar staf yang ada tetap dipertahankan,” ujar Van Gastel belum lama ini.

Musim 2025/2026 menjadi musim perdana Van Gastel bersama PSIM Jogja. Ia berhasil membawa tim promosi tersebut finis di peringkat ke-11 klasemen akhir Super League.

Pelatih asal Belanda itu menilai pendekatan permainan PSIM musim depan akan sangat bergantung pada profil pemain yang berhasil direkrut.

Menurutnya, pada musim ini ia harus menyesuaikan strategi permainan dengan materi pemain yang telah dimiliki tim sejak awal kompetisi.

“Tergantung pemain. Profil pemain menentukan cara bermain. Musim ini saya menyesuaikan dengan skuad yang sudah ada. Saya mencari cara bermain yang menonjolkan kelebihan mereka dan menutupi kekurangan,” katanya.

Van Gastel menilai strategi yang diterapkan sejauh ini masih cukup sederhana agar mudah dipahami pemain. Namun, aspek pemahaman taktik disebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemain lokal.

Ia menyoroti kemampuan membaca permainan dan merespons perubahan situasi di lapangan sebagai bagian penting dalam sepak bola modern.

“Saya pikir di aspek taktik, yaitu membaca permainan. Apa yang terjadi dalam pertandingan dan bagaimana merespons situasi. Sepak bola itu kompleks karena setiap detik situasi berubah,” ujarnya.

Menurut Van Gastel, salah satu tantangan terbesar sepak bola Indonesia adalah keterlambatan pendidikan sepak bola usia dini dibanding negara-negara Eropa.

Ia membandingkan sistem pembinaan di Belanda yang sudah dimulai sejak anak-anak berusia empat tahun, sementara di Indonesia banyak pemain baru mulai mendapatkan pendidikan sepak bola serius pada usia remaja.

“Di Indonesia belum ada sistem akademi sejak usia dini seperti di Belanda. Di sana anak-anak mulai sejak usia empat tahun. Di sini pemain baru mulai sekitar usia 15 atau 16 tahun, itu sudah cukup terlambat,” katanya.

Meski demikian, Van Gastel menegaskan evaluasi menyeluruh tetap akan dilakukan bersama manajemen sebelum menentukan langkah konkret untuk menghadapi musim baru.

“Selalu ada naik turun. Ada hal yang bagus dan ada yang perlu diperbaiki. Saya akan membahas itu dengan manajemen dan melihat bagaimana ke depannya,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|